Monday, 11 January 2010

Inside a Regret

11 Januari 2010, 14.00-18.00 WIB..suatu peringatan bahwa kelalaian akan membuat ketidaklancaran sebagai bukti bahwa The Invisible Hand that role this Earth didn't bless me.

Sungguh menjadi sebuah pilihan yang serba salah. Serba salah karena saya sudah merasa bersalah dan merasa sangsi dapat menghapus kesalahan ini, atau mungkin diri ini sudah merasa ragu akan ampunan yang tiada batas. Yach, merasa malu akan kesalahan dan kealphaan diri yang tak kunjung henti, sehingga karena saking malunya sampai terlalu mengandalkan yang namanya usaha (ikhtiar) ketimbang kemantapan hati dan pikiran yang dilandasi dengan doa serta keyakinan akan datangnya pertolonganNya. Oh, wahai Dzat Yang Menggenggam Kuasa Jiwa manusia, ampunilah hamba atas kelalaian hamba yang telah berani meninggalkan kewajiban yang no excuse for leaving that. Ampunilah hamba yang selama ini terlalu mengedepankan usaha saja tanpa disertai permohonan tulus, mengharapkan bimbinganMu.

Oh sungguh, betapa sempitnya pikiran ini...akibat perang pemikiran yang selalu saja kuikuti setiap saat hingga membuat keyakinan yang dulu senantiasa terpelihara sedikit tergoyahkan akibat terlalu dominannya sifat "TOLERANSI". Tapi dibalik itu semua, saya sebagai hamba yang lemah mungkin harus menanggalkan rasa malu yang berakibat sungkan kepada Engkau, karena ternyata Engkau telah berikan berbagai peringatan agar jasad yang lemah ini khilaf akan kesalahannya. Mohon selalu bimbinganMu ya Haq, Karena Engkaulah sejatinya Sumber Kebenaran Yang Mutlak, kebenaran yang tak bisa disangkal siapapun. Mungkin sampai saat ini, setiap orang masih campur aduk,antara pertentangan hati dan pikirannya masing-masing bahkan termasuk saya sendiri juga mengenai berbagai esensi dan tuntunan yang telah Engkau turunkan untuk membimbing kami, umat-umatMu, akibat kami terlalu bangga akibat model dan pola pikir yang bernama logika, rasional dan berbagai konsep berpikir manusia yang sebenarNya sangatlah terbatas. Tapi anehnya, kenapa dengan konsep berpikir yang saking terbatasnya, yang tidak bisa menjelaskan secara tepat dimana batas Alam semesta ini saja berani, dengan lancang meragukan tuntunanMu. Maha suci Engkau atas prasangka-prasangka manusia yang cenderung mengagungkan pemikiran sempitnya.Termasuk pemikiran hamba yang saya torehkan dalam beberapa paragraf dibawah ini, secara logika dan rasional serta analogi, aksioma, atau apalah itu namanya, hal ini bisa diterima. tetapi sekali lagi Engkau pasti punya maksud tersendiri atas segala fenomena yang kami,makhluk-makhluk lemah ini alami..

Pernah terpikirkan, karena saking lemahnya pemahaman akal dan hati ini akan pengenalan DzatMu yang suci hingga membuat otak ini cenderung memilih-milih dan membuat persamaan, sebuah analogi bahwa dunia ini tak ubahnya seperti sebuah pentas saja yang telah diskenariokan. Yach sebuah pentas, ada sutradaranya yang tak lain adalah Sang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, yang setiap ajaran agama berusaha saling menerka siapakah gerangan Sang Sutradara ini. Sebuah pentas dengan Tuhan sebagai sutradara yang merangkap penulis serta produser yang dibantu para malaikat sebagai asisten-asistennya. Sebuah pentas dengan skenario yang disebut "Lauhul Mahfudz",sebuah kitab kejadian dimana segala peristiwa yang akan dan pernah terjadi telah jauh-jauh hari tertulis di skenario sampai hal yang sekecil mungkin, daun yang jatuh pun sudah tercatat dalam lembaran-lembaran agung skenario pentas kehidupan ini, perjalanan para aktor maupun aktrisnya sejak ditiupkan ruh ke jasadnya hingga berpisahnya ruh dengan jasad sudah tertulis sedemikian rapinya. Dan para aktor dan aktrisnya tiada lain ialah Adam dan Hawa beserta anak cucunya, termasuk saya.

Dalam pentas ini dikatakan bahwa tak ada satu kejadian pun yang luput dari catatan Kitab Kejadian. Bahkan gugurnya sehelai daun pun tertulis di situ. Sang Sutradara telah tahu.Tentu saja ia tahu, karena Dia yang menulis semuanya, Dia merangkap Penulis scipt juga.

Dan honor untuk para pemeran di pentas ini adalah Surga dan Neraka. Surga untuk yang baik, para aktor-aktris protagonis. Dan Neraka untuk yang jahat, para aktor-aktris antagonis. Bagi pemikiran sempit saya saat itu, sama sajalah seperti tokoh antagonis yang dimarahi habis-habisan oleh penulis skenario karena telah berperan sebagai orang jahat hingga merusak tampilan ceritanya. Padahal yang menciptakan karakter antagonis itu adalah Sang Penulis sendiri.

Lucunya lagi, seorang yang paling baik dalam pentas ini, yang dapat dikatakan sebagai sang tokoh utama di puji-puji begitu rupa oleh ‘Sang Penulis’. Dan diganjar Surga tingkat tertinggi. Menurut saya wajarlah saja ia jadi orang yang begitu baik, bukankah Tuhan sendiri telah berkata di antara triliunan hati yang Ia ciptakan, hati ‘orang itulah’ yang terbaik. Seandainya saja ia menciptakan semua orang dengan hati yang sama baiknya, mungkin Dia tak perlu repot-repot mencipta Neraka. Toh, para aktor antagonis juga untuk membuat pentas ini berjalan dengan menarik.

Tuhan juga berkata, bahwa orang-orang yang berdosa kemudian kembali bertobat adalah orang-orang yang mendapat Kemurahan HatiNya, dan orang-orang yang tetap berdosa hingga akhir ajalnya adalah orang yang menganiyaya diri sendiri. Kalau begitu, kenapa tidak semua orang ditunjukan pada jalanNya, dan uniknya dalam pentas ini terlalu banyak figuran yang tidak mengerti akan pedoman yang telah digariskan Sang Sutradara, mengapa?

Katanya dalam pentas ini ada pedoman itu merupakan rahmat bagi semesta alam. Tapi bagaimana dengan puluhan juta jiwa, para aktor-aktris figuran yang tak pernah punya kesempatan mengenalnya? Bukankah mereka akan diganjar dengan Neraka dengan cap Kafir di keningnya? Mengapa mereka harus ikut-ikutan masuk neraka karena sesuatu yang tak pernah diketahuinya?

Tapi saya sebagai pihak yang pernah merasa sebagai salah satu aktor belum menemukan pedoman yang lebih mengagumkan dari konsep pedoman dunia layaknya pentas ini. Saya pernah tekun pelajari pedoman lain yang karena saking istimewanya posisi mereka dihadapan Sanag Maha Kuasa sehingga cukuplah beribadah sekali seminggu, sangat istimewa. Dan menyenangkan karena ada nyanyian-nyanyian. Dan lebih menyenangkan lagi karena sepertinya pemeluknya mempunyai ‘hubungan yang amat dekat’ dengan Tuhannya. Tapi saya tak bisa menerima konsep arahan yang mewajibkan percaya pada skrip ‘tiga dalam satu’ sungguh sangat ambigu.

ternyata, setalah jenuh terhadap berbagai manuskrip yang saya temukan tergeletak dan bertebaran di panggung pentas, saya temukan kembali arahan skrip dari Sang Sutradara...ternyata dibalik pentas ini, adahal yang bukanlah sebatas pentas saja...ada maksud dibalik semua itu..

Dan tidaklah kehidupan dunia ini, melaikan main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahami. (QS. Al-An’am 32).


Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kalian sia-sia (hanya sebatas untuk permainan saja) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?, Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenarnya, Tiada Tuhan selain Dia, yang mempunyai arsy yang mulia. (QS. Al-Mukminun 115-116)


hampir saja terpeleset pada konsep sempit tentang arti kehidupan ini sehingga beranggapan layaknya para kritikus pentas..

Dan mereka berkata. Hidup adalah kehidupan kita di dunia ini saja dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (QS. Al-An’am: 29).

Dan mereka berkata: kehidupan dunia ini tidak lain kecuali kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang bisa membinasakan kita kecuali waktu, dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah 24).

padahal sesungguhnya, setiap pribadi, terserah jika anda akan menyebutnya kembali sebagai Aktor maupun aktris, telah diberikan kewenangan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, jalan yang terbaik menurutnya..karena ternyata yang akan mengubah nasib diri mereka sendiri ya diri mereka sendiri..

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

dan untuk itulah...

Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. (Al-Zalzalah 7-8)

karena ini bukan semata pentas atau permainan, ada oertanggungjawaban kelak di suatu masa, yang menjadi timbangan atas apa yang telah dilakukan dalam kehidupan ini.

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imron : 191)


Mohon ampunMu atas segala kekhilafan dan kelalaian hamba...