11 Januari 2010, 14.00-18.00 WIB..suatu peringatan bahwa kelalaian akan membuat ketidaklancaran sebagai bukti bahwa The Invisible Hand that role this Earth didn't bless me.
Sungguh menjadi sebuah pilihan yang serba salah. Serba salah karena saya sudah merasa bersalah dan merasa sangsi dapat menghapus kesalahan ini, atau mungkin diri ini sudah merasa ragu akan ampunan yang tiada batas. Yach, merasa malu akan kesalahan dan kealphaan diri yang tak kunjung henti, sehingga karena saking malunya sampai terlalu mengandalkan yang namanya usaha (ikhtiar) ketimbang kemantapan hati dan pikiran yang dilandasi dengan doa serta keyakinan akan datangnya pertolonganNya. Oh, wahai Dzat Yang Menggenggam Kuasa Jiwa manusia, ampunilah hamba atas kelalaian hamba yang telah berani meninggalkan kewajiban yang no excuse for leaving that. Ampunilah hamba yang selama ini terlalu mengedepankan usaha saja tanpa disertai permohonan tulus, mengharapkan bimbinganMu.
Oh sungguh, betapa sempitnya pikiran ini...akibat perang pemikiran yang selalu saja kuikuti setiap saat hingga membuat keyakinan yang dulu senantiasa terpelihara sedikit tergoyahkan akibat terlalu dominannya sifat "TOLERANSI". Tapi dibalik itu semua, saya sebagai hamba yang lemah mungkin harus menanggalkan rasa malu yang berakibat sungkan kepada Engkau, karena ternyata Engkau telah berikan berbagai peringatan agar jasad yang lemah ini khilaf akan kesalahannya. Mohon selalu bimbinganMu ya Haq, Karena Engkaulah sejatinya Sumber Kebenaran Yang Mutlak, kebenaran yang tak bisa disangkal siapapun. Mungkin sampai saat ini, setiap orang masih campur aduk,antara pertentangan hati dan pikirannya masing-masing bahkan termasuk saya sendiri juga mengenai berbagai esensi dan tuntunan yang telah Engkau turunkan untuk membimbing kami, umat-umatMu, akibat kami terlalu bangga akibat model dan pola pikir yang bernama logika, rasional dan berbagai konsep berpikir manusia yang sebenarNya sangatlah terbatas. Tapi anehnya, kenapa dengan konsep berpikir yang saking terbatasnya, yang tidak bisa menjelaskan secara tepat dimana batas Alam semesta ini saja berani, dengan lancang meragukan tuntunanMu. Maha suci Engkau atas prasangka-prasangka manusia yang cenderung mengagungkan pemikiran sempitnya.Termasuk pemikiran hamba yang saya torehkan dalam beberapa paragraf dibawah ini, secara logika dan rasional serta analogi, aksioma, atau apalah itu namanya, hal ini bisa diterima. tetapi sekali lagi Engkau pasti punya maksud tersendiri atas segala fenomena yang kami,makhluk-makhluk lemah ini alami..
Pernah terpikirkan, karena saking lemahnya pemahaman akal dan hati ini akan pengenalan DzatMu yang suci hingga membuat otak ini cenderung memilih-milih dan membuat persamaan, sebuah analogi bahwa dunia ini tak ubahnya seperti sebuah pentas saja yang telah diskenariokan. Yach sebuah pentas, ada sutradaranya yang tak lain adalah Sang Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, yang setiap ajaran agama berusaha saling menerka siapakah gerangan Sang Sutradara ini. Sebuah pentas dengan Tuhan sebagai sutradara yang merangkap penulis serta produser yang dibantu para malaikat sebagai asisten-asistennya. Sebuah pentas dengan skenario yang disebut "Lauhul Mahfudz",sebuah kitab kejadian dimana segala peristiwa yang akan dan pernah terjadi telah jauh-jauh hari tertulis di skenario sampai hal yang sekecil mungkin, daun yang jatuh pun sudah tercatat dalam lembaran-lembaran agung skenario pentas kehidupan ini, perjalanan para aktor maupun aktrisnya sejak ditiupkan ruh ke jasadnya hingga berpisahnya ruh dengan jasad sudah tertulis sedemikian rapinya. Dan para aktor dan aktrisnya tiada lain ialah Adam dan Hawa beserta anak cucunya, termasuk saya.
Dalam pentas ini dikatakan bahwa tak ada satu kejadian pun yang luput dari catatan Kitab Kejadian. Bahkan gugurnya sehelai daun pun tertulis di situ. Sang Sutradara telah tahu.Tentu saja ia tahu, karena Dia yang menulis semuanya, Dia merangkap Penulis scipt juga.
Dan honor untuk para pemeran di pentas ini adalah Surga dan Neraka. Surga untuk yang baik, para aktor-aktris protagonis. Dan Neraka untuk yang jahat, para aktor-aktris antagonis. Bagi pemikiran sempit saya saat itu, sama sajalah seperti tokoh antagonis yang dimarahi habis-habisan oleh penulis skenario karena telah berperan sebagai orang jahat hingga merusak tampilan ceritanya. Padahal yang menciptakan karakter antagonis itu adalah Sang Penulis sendiri.
Lucunya lagi, seorang yang paling baik dalam pentas ini, yang dapat dikatakan sebagai sang tokoh utama di puji-puji begitu rupa oleh ‘Sang Penulis’. Dan diganjar Surga tingkat tertinggi. Menurut saya wajarlah saja ia jadi orang yang begitu baik, bukankah Tuhan sendiri telah berkata di antara triliunan hati yang Ia ciptakan, hati ‘orang itulah’ yang terbaik. Seandainya saja ia menciptakan semua orang dengan hati yang sama baiknya, mungkin Dia tak perlu repot-repot mencipta Neraka. Toh, para aktor antagonis juga untuk membuat pentas ini berjalan dengan menarik.
Tuhan juga berkata, bahwa orang-orang yang berdosa kemudian kembali bertobat adalah orang-orang yang mendapat Kemurahan HatiNya, dan orang-orang yang tetap berdosa hingga akhir ajalnya adalah orang yang menganiyaya diri sendiri. Kalau begitu, kenapa tidak semua orang ditunjukan pada jalanNya, dan uniknya dalam pentas ini terlalu banyak figuran yang tidak mengerti akan pedoman yang telah digariskan Sang Sutradara, mengapa?
Katanya dalam pentas ini ada pedoman itu merupakan rahmat bagi semesta alam. Tapi bagaimana dengan puluhan juta jiwa, para aktor-aktris figuran yang tak pernah punya kesempatan mengenalnya? Bukankah mereka akan diganjar dengan Neraka dengan cap Kafir di keningnya? Mengapa mereka harus ikut-ikutan masuk neraka karena sesuatu yang tak pernah diketahuinya?
Tapi saya sebagai pihak yang pernah merasa sebagai salah satu aktor belum menemukan pedoman yang lebih mengagumkan dari konsep pedoman dunia layaknya pentas ini. Saya pernah tekun pelajari pedoman lain yang karena saking istimewanya posisi mereka dihadapan Sanag Maha Kuasa sehingga cukuplah beribadah sekali seminggu, sangat istimewa. Dan menyenangkan karena ada nyanyian-nyanyian. Dan lebih menyenangkan lagi karena sepertinya pemeluknya mempunyai ‘hubungan yang amat dekat’ dengan Tuhannya. Tapi saya tak bisa menerima konsep arahan yang mewajibkan percaya pada skrip ‘tiga dalam satu’ sungguh sangat ambigu.
ternyata, setalah jenuh terhadap berbagai manuskrip yang saya temukan tergeletak dan bertebaran di panggung pentas, saya temukan kembali arahan skrip dari Sang Sutradara...ternyata dibalik pentas ini, adahal yang bukanlah sebatas pentas saja...ada maksud dibalik semua itu..
Dan tidaklah kehidupan dunia ini, melaikan main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahami. (QS. Al-An’am 32).
Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kalian sia-sia (hanya sebatas untuk permainan saja) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?, Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenarnya, Tiada Tuhan selain Dia, yang mempunyai arsy yang mulia. (QS. Al-Mukminun 115-116)
hampir saja terpeleset pada konsep sempit tentang arti kehidupan ini sehingga beranggapan layaknya para kritikus pentas..
Dan mereka berkata. Hidup adalah kehidupan kita di dunia ini saja dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (QS. Al-An’am: 29).
Dan mereka berkata: kehidupan dunia ini tidak lain kecuali kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang bisa membinasakan kita kecuali waktu, dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah 24).
padahal sesungguhnya, setiap pribadi, terserah jika anda akan menyebutnya kembali sebagai Aktor maupun aktris, telah diberikan kewenangan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, jalan yang terbaik menurutnya..karena ternyata yang akan mengubah nasib diri mereka sendiri ya diri mereka sendiri..
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11
dan untuk itulah...
Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. (Al-Zalzalah 7-8)
karena ini bukan semata pentas atau permainan, ada oertanggungjawaban kelak di suatu masa, yang menjadi timbangan atas apa yang telah dilakukan dalam kehidupan ini.
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imron : 191)
Mohon ampunMu atas segala kekhilafan dan kelalaian hamba...
Monday, 11 January 2010
Thursday, 31 December 2009
Tahun Baru
Perayaan Tahun baru adalah suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Bangsa-bangsa atau umat yang mempunyai kalender tahunan biasanya mempunyai perayaan tahun baru. Tapi apakah semua umat merayakan tahun barunya? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kami berusaha menelusuri kembali sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa dan umat di dunia serta hukum merayakannya bagi kaum muslimin.
Perayaan Tahun Baru Umat Yahudi
Agama dan Umat Yahudi merayakan Tahun Baru mereka tidak pada hari ke-1 bulan ke-1 Kalender Ibrani (bulan Nisan), tetapi pada hari ke-1 bulan ke-7 Kalendar Ibrani (bulan Tishrei). Umat Yahudi menyebut Perayaan Tahun Baru mereka dengan nama Rosh Hashanah, yang berarti “Kepala Tahun”.
Rosh Hashanah ini digunakan umat Yahudi untuk memperingati penciptaan dunia seperti yang ditulis dalam kitab mereka. Mereka merayakannya dengan cara berdoa di sinagog, mendengar bunyi shofar (tanduk). Menyediakan makanan pesta berupa roti challah yang bundar dan apel yang dicelupkan ke dalam madu, juga kepala ikan dan buah delima. Buah-buahan baru disajikan pada malam kedua. Pada Perayaan Tahun Baru ini mereka beristirahat dari aktivitas kerja.
Jika memakai kalender Gregorian (Kalender Masehi), Tahun Baru Yahudi ini dirayakan pada bulan September. Misalnya tahun 2008 M Rosh Hashanah jatuh pada 29 September 2008. Tanggal itu ekivalen dengan tanggal 1 Tishrei 5769 AM (Anno Mundi). Anno Mundi adalah bahasa latin yang artinya “dalam hitungan tahun dunia”, disingkat A.M. karena orang Yahudi menganggap kalender mereka dimulai dari tanggal kelahiran Adam. Menurut perhitungan Kalender Ibrani, tanggal 1 bulan Tishrei tahun ke-1 AM adalah ekivalen dengan hari Senin, tanggal 7 Oktober tahun 3761 BCE dalam Kalender Julian (Kalender Romawi Kuno).
Ketika Panglima Pompey dari Kekaisaran Romawi Kuno menguasai Yerusalem pada tahun 63 SM, orang-orang Yahudi mulai mengikuti Kalender Julian (Kalender Bangsa Romawi yang menjajahnya). Dan setelah berdiri negara Israel pada tahun 1948 M, mulai tahun 1950an M Kalender Ibrani menurun penggunaannya dalam kehidupan bangsa Yahudi sekuler. Mereka lebih menyukai Kalender Gregorian untuk kehidupan pribadi dan kehidupan publik mereka. Dan sejak tahun 1980an, bangsa Yahudi sekuler justru mengadopsi kebiasaan Perayaan Tahun Baru Gregorian (Tahun Baru Masehi) yang biasanya dikenal dengan sebutan ”Sylvester Night” dengan berpesta pada malam 31 Desember hingga 1 Januari.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Cina
Bangsa Cina merayakan tahun baru mereka pada malam bulan baru pada musim dingin (antara akhir Januari hingga awal Februari) atau jika memakai kalender Gregorian tahun baru ini terletak antara 21 Januari hingga 20 Februari. Mereka menyebutnya dengan nama Imlek.
Perayaan ini dimulai di hari ke-1 bulan pertama (zh?ng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Chúx? yang berarti “malam pergantian tahun”.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun secara umum berisi perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek sebagai makna keberuntungan. Selama perayaan tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: “G?ngx? f?cái” yang artinya “selamat dan semoga banyak rejeki”.
Tahun Baru Imlek dirayakan oleh orang Tionghoa di Daratan Tiongkok, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, Jepang (sebelum 1873), Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan tempat-tempat lain.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Persia
Orang Persia menamakan perayaan tahun baru mereka dengan nama Norouz. Norouz adalah perayaan (hari pertama) musim semi dan awal Kalender Persia. Orang Persia punya Kalender Persia yang didasarkan dari musim dan pergerakan matahari. Kata ”norouz” berasal dari bahasa Avesta yang berarti “hari baru”. Oleh bangsa Persia, hari ini dirayakan pada tanggal 21 Maret jika memakai Kalender Gregorian..
Sejak Kekaisaran Dinasti Arsacid/ Parthian, yang memerintah Iran pada 248 SM-224 M, Norouz dijadikan hari libur. Mereka merayakannya dengan mempersembahkan hadiah telur sebagai lambang produktivitas.
Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang yang terpengaruh Zoroastirianisme yang tersebar di Iran, Iraq, Afganistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kurdistan, Pakistan, Kashmir, beberapa tempat di India, Syria, Kurdi, Turki, Armenia, Caucasus, Crimea, Georgia, Azerbaijan, Macedonia, Bosnia, Kosovo, dan Albania.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Romawi KUNO
Sejak Abad ke-7 SM bangsa romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali revisi. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.
Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian . Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli). Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.
Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur dan semua Senat dapat berkumpul untuk memilih Konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.
Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.
PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Kristen
Sejak Konstantinus yang Agung menduduki tahta Kaisar Romawi tahun 312 M, Kristen menjadi agama yang legal di Kekaisaran Romawi Kuno. Bahkan tanggal 27 Februari 380 M Kaisar Theodosius mengeluarkan sebuah maklumat, De Fide Catolica, di Tesalonika, yang dipublikasikan di Konstantinopel, yang menyatakan bahwa Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi Kuno. Di Abad-abab Pertengahan (middle ages), abad ke-5 hingga abad ke-15 M, Kristen memegang peranan dominan di Kekaisaran Romawi hingga ke negara-negara Eropa lainnya.
Berdasarkan keputusan Konsili Tours tahun 567 umat Kristen ikut merayakan Tahun Baru dan mereka mengadakan puasa khusus serta ekaristi. Kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, yakni hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru.
Umat Kristen menggunakan Kalender yang dinamakan Kalender Masehi. Mereka menggunakan penghitungan tahun dan bulan Kalender Julian, namun menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1 Masehi), walaupun sejarah menempatkan kelahiran Yesus pada waktu antara tahun 6 dan 4 SM.
Setelah meninggalkan Abad-abad Pertengahan, pada tahun 1582 M Kalender Julian diganti dengan Kalender Gregorian. Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. Dekrit ini disahkan pada tanggal 24 Februari 1582 M. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 Kalender Julian, esoknya adalah tanggal 15 Oktober 1582 Kalender Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah Kalender Gregorian. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.
Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti Kalender Julian sehingga perayaan Natal dan Tahun Baru mereka berbeda dengan gereja Katolik Roma.
Pada tahun 1582 M Paus Gregorius XIII juga mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Hingga kini, Umat Kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.
PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Islam
Tidak seperti bangsa dan umat terdahulu, Islam tidak merayakan tahun baru. Rasulullah Muhammad saw bahkan melarang meniru (tasyabbuh) budaya bangsa dan umat sebelum datangnya Islam seperti Umat Yahudi, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, dan Umat Nasrani yang merayakan Tahun Baru mereka. Rasulullah saw bersabda:
Man tasyabbaHa bi qaumin faHuwa minHum.
Artinya: Siapa saja yang menyerupai suatu kaum/ bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi)
Dan khusus tentang hari raya, Rasulullah saw membatasi hari raya umat Islam hanya pada Idul Adhha dan Idul Fithri, lain itu tidak. Rasulullah saw bersabda:
Kullu ummatin iidan. Wa haadzihi iidunaa: iidul adhhaa dan iidul fithri
Artinya: Setiap ummat punya hari raya. Dan inilah hari raya kita: Idul Adhha dan Idul Fithri.
Ketika Rasulullah saw masih hidup (570 – 632 M), Umat Islam menggunakan sistem penanggalan Arab pra-Islam. Sistem kalender ini berbasis campuran antara bulan (qomariyah) dan matahari (syamsiyah).
Setelah Khilafah Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia untuk selamanya dan membebaskan Wilayah Syam dari Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 17 H atau ekivalen dengan 638 M, di masa pemerintahan Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab diresmikanlah penggunaan Kalender Hijriyah. Dinamakan Kalender Hijriyah karena ‘Umar menetapkan awal patokan penanggalan Islam ini adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrahnya Rasulullah saw tersebut adalah pertolongan Allah yang membuat perubahan besar pada perkembangan Islam. Sejak hijrah ke Madinah mulailah terbentuk Negara Islam dan Umat Islam.
Kalender Hijriyah dihitung dengan pergerakan bulan. Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtima’). Setahun terdiri dari 12 bulan: Muharram, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah. Satu minggu terdiri dari 7 hari: al-Ahad, al-Itsnayn, ats-Tsalaatsa’ , al-Arba’aa / ar-Raabi’, al-Kamsatun, al-Jumu’ah (Jumat), dan as-Sabat. Ketika melakukan perjalanan ke Syam, Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab sempat membandingkan kalendar Hijriyah dengan kalendar-kalendar Persia dan Romawi. Umar berkesimpulan bahwa kalendar Hijriyah lebih baik.
Walaupun Kalender Hijriyah telah dipakai resmi di masa pemerintahan Amirul Mu`minin Umar bin Khaththab, namun para sahabat di masa itu tidak berpikir untuk merayakan 1 Muharram (awal tahun Hijriyah) sebagai Perayaan Tahun Baru Islam. Mereka berkonsentrasi penuh untuk mengokohkan penegakkan syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Mereka tidak pernah berpikir untuk mengadakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh Islam dan tidak dilakukan oleh Rasululah saw. Yang demikian itu terus berlanjut pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dan sebagian besar masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Bahkan hingga masa negara Buwaihiyah, negara syi’ah yang memisahkan diri dari daulah Islamiyah Abbasiyah, negara syi’ah ini pun tidak pernah berpikir untuk menambah-nambah perayaan yang tidak diteladankan Rasulullah saw.
Karena memuliakan Islam bukan dengan cara membuat perayaan tahun baru hijriyah, tetapi dengan mengikuti sunnah nabi, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, dan menjadikannya dasar hukum dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Sayangnya, pada abad ke-4 H kaum Syiah kelompok al-‘Ubadiyyun dari sekte Ismailiyah yang lebih dikenal dengan kaum Fathimiyun membuat hari raya tahun baru hijriyah. Kelompok ini mendirikan negara di Mesir yang terpisah dari Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Mereka ingin meniru apa yang ada pada umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Maka benarlah sabda Rasulullah saw
Akan datang suatu masa dimana kalian akan mengikuti cara hidup bangsa-bangsa sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Sampai ketika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun ikut memasukinya. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”
Dalam hadits lain: Para sahabat bertanya, “apakah mereka Romawi dan Pers?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”
Sejak saat itu Tahun baru Hijriyah dalam kalender Hijriyah dirayakan setiap tanggal 1 Muharam. Termasuk umat Islam di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Sunni, juga ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Hijriyah yang direkayasa oleh kaum Syiah Ismailiyah yang telah murtad itu. Adapun pemerintah yang berkuasa di Indonesia lebih parah lagi, ikut merayakan Tahun Baru Masehi tanggal 1 Januari karena mengadopsi kalender Gregorian. Dan ternyata tidak hanya perayaan tahun baru yang ditiru dari bangsa dan umat selain Islam, tetapi juga dalam keyakinan, perilaku, budaya, sistem hukum dan pemerintahannya pun meniru bangsa dan umat selain Islam.
PERAYAAN TAHUN BARU KAUM SEKULER
Mengikuti budaya Romawi dan Kristen, di Era Sekuler Negara-negara Barat merayakan Tahun Baru tanggal 1 Januari. Tahun 1752 Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan kalender Gregorian.
Di Inggris, Untuk merayakan Tahun Baru para suami memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.
Di Amerika serikat, Tahun Baru dijadikan sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember. Orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, dimana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Esok harinya, tanggal 1 Januari, orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi yang berisi Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba-lomba futbol Amerika dilangsungkan di berbagai kota di Amerika.
Ya Allah semoga penyampaian sejarah ini bisa membuka mata dan hati kami semua. Amin.
repot from:Umar Abdullah
http://mediaislamnet.com/2009/12/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/
Perayaan Tahun Baru Umat Yahudi
Agama dan Umat Yahudi merayakan Tahun Baru mereka tidak pada hari ke-1 bulan ke-1 Kalender Ibrani (bulan Nisan), tetapi pada hari ke-1 bulan ke-7 Kalendar Ibrani (bulan Tishrei). Umat Yahudi menyebut Perayaan Tahun Baru mereka dengan nama Rosh Hashanah, yang berarti “Kepala Tahun”.
Rosh Hashanah ini digunakan umat Yahudi untuk memperingati penciptaan dunia seperti yang ditulis dalam kitab mereka. Mereka merayakannya dengan cara berdoa di sinagog, mendengar bunyi shofar (tanduk). Menyediakan makanan pesta berupa roti challah yang bundar dan apel yang dicelupkan ke dalam madu, juga kepala ikan dan buah delima. Buah-buahan baru disajikan pada malam kedua. Pada Perayaan Tahun Baru ini mereka beristirahat dari aktivitas kerja.
Jika memakai kalender Gregorian (Kalender Masehi), Tahun Baru Yahudi ini dirayakan pada bulan September. Misalnya tahun 2008 M Rosh Hashanah jatuh pada 29 September 2008. Tanggal itu ekivalen dengan tanggal 1 Tishrei 5769 AM (Anno Mundi). Anno Mundi adalah bahasa latin yang artinya “dalam hitungan tahun dunia”, disingkat A.M. karena orang Yahudi menganggap kalender mereka dimulai dari tanggal kelahiran Adam. Menurut perhitungan Kalender Ibrani, tanggal 1 bulan Tishrei tahun ke-1 AM adalah ekivalen dengan hari Senin, tanggal 7 Oktober tahun 3761 BCE dalam Kalender Julian (Kalender Romawi Kuno).
Ketika Panglima Pompey dari Kekaisaran Romawi Kuno menguasai Yerusalem pada tahun 63 SM, orang-orang Yahudi mulai mengikuti Kalender Julian (Kalender Bangsa Romawi yang menjajahnya). Dan setelah berdiri negara Israel pada tahun 1948 M, mulai tahun 1950an M Kalender Ibrani menurun penggunaannya dalam kehidupan bangsa Yahudi sekuler. Mereka lebih menyukai Kalender Gregorian untuk kehidupan pribadi dan kehidupan publik mereka. Dan sejak tahun 1980an, bangsa Yahudi sekuler justru mengadopsi kebiasaan Perayaan Tahun Baru Gregorian (Tahun Baru Masehi) yang biasanya dikenal dengan sebutan ”Sylvester Night” dengan berpesta pada malam 31 Desember hingga 1 Januari.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Cina
Bangsa Cina merayakan tahun baru mereka pada malam bulan baru pada musim dingin (antara akhir Januari hingga awal Februari) atau jika memakai kalender Gregorian tahun baru ini terletak antara 21 Januari hingga 20 Februari. Mereka menyebutnya dengan nama Imlek.
Perayaan ini dimulai di hari ke-1 bulan pertama (zh?ng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Chúx? yang berarti “malam pergantian tahun”.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun secara umum berisi perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek sebagai makna keberuntungan. Selama perayaan tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: “G?ngx? f?cái” yang artinya “selamat dan semoga banyak rejeki”.
Tahun Baru Imlek dirayakan oleh orang Tionghoa di Daratan Tiongkok, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, Jepang (sebelum 1873), Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan tempat-tempat lain.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Persia
Orang Persia menamakan perayaan tahun baru mereka dengan nama Norouz. Norouz adalah perayaan (hari pertama) musim semi dan awal Kalender Persia. Orang Persia punya Kalender Persia yang didasarkan dari musim dan pergerakan matahari. Kata ”norouz” berasal dari bahasa Avesta yang berarti “hari baru”. Oleh bangsa Persia, hari ini dirayakan pada tanggal 21 Maret jika memakai Kalender Gregorian..
Sejak Kekaisaran Dinasti Arsacid/ Parthian, yang memerintah Iran pada 248 SM-224 M, Norouz dijadikan hari libur. Mereka merayakannya dengan mempersembahkan hadiah telur sebagai lambang produktivitas.
Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang yang terpengaruh Zoroastirianisme yang tersebar di Iran, Iraq, Afganistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kurdistan, Pakistan, Kashmir, beberapa tempat di India, Syria, Kurdi, Turki, Armenia, Caucasus, Crimea, Georgia, Azerbaijan, Macedonia, Bosnia, Kosovo, dan Albania.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Romawi KUNO
Sejak Abad ke-7 SM bangsa romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali revisi. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.
Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian . Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli). Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.
Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur dan semua Senat dapat berkumpul untuk memilih Konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.
Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.
PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Kristen
Sejak Konstantinus yang Agung menduduki tahta Kaisar Romawi tahun 312 M, Kristen menjadi agama yang legal di Kekaisaran Romawi Kuno. Bahkan tanggal 27 Februari 380 M Kaisar Theodosius mengeluarkan sebuah maklumat, De Fide Catolica, di Tesalonika, yang dipublikasikan di Konstantinopel, yang menyatakan bahwa Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi Kuno. Di Abad-abab Pertengahan (middle ages), abad ke-5 hingga abad ke-15 M, Kristen memegang peranan dominan di Kekaisaran Romawi hingga ke negara-negara Eropa lainnya.
Berdasarkan keputusan Konsili Tours tahun 567 umat Kristen ikut merayakan Tahun Baru dan mereka mengadakan puasa khusus serta ekaristi. Kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, yakni hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru.
Umat Kristen menggunakan Kalender yang dinamakan Kalender Masehi. Mereka menggunakan penghitungan tahun dan bulan Kalender Julian, namun menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1 Masehi), walaupun sejarah menempatkan kelahiran Yesus pada waktu antara tahun 6 dan 4 SM.
Setelah meninggalkan Abad-abad Pertengahan, pada tahun 1582 M Kalender Julian diganti dengan Kalender Gregorian. Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. Dekrit ini disahkan pada tanggal 24 Februari 1582 M. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 Kalender Julian, esoknya adalah tanggal 15 Oktober 1582 Kalender Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah Kalender Gregorian. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.
Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti Kalender Julian sehingga perayaan Natal dan Tahun Baru mereka berbeda dengan gereja Katolik Roma.
Pada tahun 1582 M Paus Gregorius XIII juga mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Hingga kini, Umat Kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.
PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Islam
Tidak seperti bangsa dan umat terdahulu, Islam tidak merayakan tahun baru. Rasulullah Muhammad saw bahkan melarang meniru (tasyabbuh) budaya bangsa dan umat sebelum datangnya Islam seperti Umat Yahudi, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, dan Umat Nasrani yang merayakan Tahun Baru mereka. Rasulullah saw bersabda:
Man tasyabbaHa bi qaumin faHuwa minHum.
Artinya: Siapa saja yang menyerupai suatu kaum/ bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi)
Dan khusus tentang hari raya, Rasulullah saw membatasi hari raya umat Islam hanya pada Idul Adhha dan Idul Fithri, lain itu tidak. Rasulullah saw bersabda:
Kullu ummatin iidan. Wa haadzihi iidunaa: iidul adhhaa dan iidul fithri
Artinya: Setiap ummat punya hari raya. Dan inilah hari raya kita: Idul Adhha dan Idul Fithri.
Ketika Rasulullah saw masih hidup (570 – 632 M), Umat Islam menggunakan sistem penanggalan Arab pra-Islam. Sistem kalender ini berbasis campuran antara bulan (qomariyah) dan matahari (syamsiyah).
Setelah Khilafah Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia untuk selamanya dan membebaskan Wilayah Syam dari Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 17 H atau ekivalen dengan 638 M, di masa pemerintahan Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab diresmikanlah penggunaan Kalender Hijriyah. Dinamakan Kalender Hijriyah karena ‘Umar menetapkan awal patokan penanggalan Islam ini adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrahnya Rasulullah saw tersebut adalah pertolongan Allah yang membuat perubahan besar pada perkembangan Islam. Sejak hijrah ke Madinah mulailah terbentuk Negara Islam dan Umat Islam.
Kalender Hijriyah dihitung dengan pergerakan bulan. Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtima’). Setahun terdiri dari 12 bulan: Muharram, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah. Satu minggu terdiri dari 7 hari: al-Ahad, al-Itsnayn, ats-Tsalaatsa’ , al-Arba’aa / ar-Raabi’, al-Kamsatun, al-Jumu’ah (Jumat), dan as-Sabat. Ketika melakukan perjalanan ke Syam, Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab sempat membandingkan kalendar Hijriyah dengan kalendar-kalendar Persia dan Romawi. Umar berkesimpulan bahwa kalendar Hijriyah lebih baik.
Walaupun Kalender Hijriyah telah dipakai resmi di masa pemerintahan Amirul Mu`minin Umar bin Khaththab, namun para sahabat di masa itu tidak berpikir untuk merayakan 1 Muharram (awal tahun Hijriyah) sebagai Perayaan Tahun Baru Islam. Mereka berkonsentrasi penuh untuk mengokohkan penegakkan syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Mereka tidak pernah berpikir untuk mengadakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh Islam dan tidak dilakukan oleh Rasululah saw. Yang demikian itu terus berlanjut pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dan sebagian besar masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Bahkan hingga masa negara Buwaihiyah, negara syi’ah yang memisahkan diri dari daulah Islamiyah Abbasiyah, negara syi’ah ini pun tidak pernah berpikir untuk menambah-nambah perayaan yang tidak diteladankan Rasulullah saw.
Karena memuliakan Islam bukan dengan cara membuat perayaan tahun baru hijriyah, tetapi dengan mengikuti sunnah nabi, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, dan menjadikannya dasar hukum dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Sayangnya, pada abad ke-4 H kaum Syiah kelompok al-‘Ubadiyyun dari sekte Ismailiyah yang lebih dikenal dengan kaum Fathimiyun membuat hari raya tahun baru hijriyah. Kelompok ini mendirikan negara di Mesir yang terpisah dari Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Mereka ingin meniru apa yang ada pada umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Maka benarlah sabda Rasulullah saw
Akan datang suatu masa dimana kalian akan mengikuti cara hidup bangsa-bangsa sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Sampai ketika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun ikut memasukinya. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”
Dalam hadits lain: Para sahabat bertanya, “apakah mereka Romawi dan Pers?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”
Sejak saat itu Tahun baru Hijriyah dalam kalender Hijriyah dirayakan setiap tanggal 1 Muharam. Termasuk umat Islam di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Sunni, juga ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Hijriyah yang direkayasa oleh kaum Syiah Ismailiyah yang telah murtad itu. Adapun pemerintah yang berkuasa di Indonesia lebih parah lagi, ikut merayakan Tahun Baru Masehi tanggal 1 Januari karena mengadopsi kalender Gregorian. Dan ternyata tidak hanya perayaan tahun baru yang ditiru dari bangsa dan umat selain Islam, tetapi juga dalam keyakinan, perilaku, budaya, sistem hukum dan pemerintahannya pun meniru bangsa dan umat selain Islam.
PERAYAAN TAHUN BARU KAUM SEKULER
Mengikuti budaya Romawi dan Kristen, di Era Sekuler Negara-negara Barat merayakan Tahun Baru tanggal 1 Januari. Tahun 1752 Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan kalender Gregorian.
Di Inggris, Untuk merayakan Tahun Baru para suami memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.
Di Amerika serikat, Tahun Baru dijadikan sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember. Orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, dimana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Esok harinya, tanggal 1 Januari, orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi yang berisi Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba-lomba futbol Amerika dilangsungkan di berbagai kota di Amerika.
Ya Allah semoga penyampaian sejarah ini bisa membuka mata dan hati kami semua. Amin.
repot from:Umar Abdullah
http://mediaislamnet.com/2009/12/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/
Saturday, 26 December 2009
Harmony within diversity ( a problem solving inspiration from malam budaya Aceh-Sunda @ Dago tea, 26/12/09
wish we can always stick together..^^ (facebook notifications 25/12/09 2:56pm)
Pernyataan itu masih terngiang hingga beberapa hari setelah saya baca di notifikasi status seorang rekan di seberang lautan sana. Saya sendiri heran, kenapa ya? bukannya sudah sewajarnya, dia mengucapkan hal itu, mengingat antara saya dan dia memang berbeda. Dan masing2 diantara kami tahu bahwa perbedaan itu sangat riskan akan Clash, apalagi jika sisi humanity tertekan oleh strong belief of religy.
Jadi begini kawan, mungkin sudah merupakan hal yang jadi bahasan lama soal cara muamalah (berhubungan dengan orang di luar keyakinan kita) terutama berkaitan dengan ucapan selamat atas hari besar keyakinan mereka. Sahabat saya yang di seberang lautan sana, beliau seorang yang sungguh taat menjalankan keyakinannya. Beliau seorang Christian protestant yang taat, putri yang disayangi dan menyayangi keluarga, sahabat yang mengasihi dan dikasihi rekan, kerabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya. kebetulan antara saya dengan beliau pernah bertemu di salah satu kompetisi debat marketing di Jakarta, dan beliau sungguh mampu menjadi sahabat yang baik bagi setiap orang. Hingga setelah lama tak bersua, saya tetap keep contact dengan beliau lewat facebook.
Sampai tiba waktu perayaan Natal bagi semua umat kristen di dunia. Secara pribadi atas nama sahabat saya ingin mengucapkan Merry Xmas pada beliau, mengingat Natal sangat bermakna bagi beliau. Akan tetapi, sebagai seorang yang berusaha istiqomah dalam minhaj yang saya yakini kebenarannya, saya terhalangi bahkan cenderung dilarang untuk mengucapkan hal tersebut. Hal ini disebabkan, menurut salah satu pendapat mayoritas ulama; perayaan Natal oleh umat Kristen merupakan perayaan atas kelahiran ISa Almasih sebagai Tuhan, Juru selamat, dan Messiah yang menyelamatkan seluruh umat manusia dengan kasih sayangnya, sedangkan dalam ajaran yang saya yakini, Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak lain hanyalah Hamba Allah, Nabi dan Rasul Allah yang mengEsakan Allah. Sehingga, apabila seorang muslim mengucapkan "selamat natal", berarti dia ikut mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan Messiah, maka dari itu dilarang mengucapkan hal itu karena menyangkut dengan akidah (keyakinan dalam beragama).
Namun, akhirnya saya mengucapkan selamat hari raya kepada beliau mengingat kami adalah sahabat satu sama lain, yang saling menghormati dan menghargai (toleransi) terhadap keyakinan yang dianut masing-masing. dan bagi saya pribadi, saya lebih cenderung ke pendapat Syeikh Yusuf al Qaradhawi selaku mufti Ulama Eropa perihal toleransi antara Moslem-Christian yang menyatakan bahwa hal pengucapan selamat hari raya bagi mereka diperbolehkan karena mereka adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin. Selain itu hal ini termasuk didalam perbuatan kebajikan yang tidak dilarang Allah swt tetapi malah dicintai-Nya, karena termasuk perlakuan adil atas penghormatan yang diberikan terhadap sesama (QS an Nisa:86). Jadi saya ucapkan selamat hari raya.
Uniknya, agaknya beliau tahu tentang hal ini, dan responnya unik: wish we can always stick together. semoga kita dapat selalu bersatu, bersama. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat unik, saya sendiri juga terkesan, walaupun pernyataan itu tidak diucapkan secara lisan, cuma lewat tulisan, tetapi sungguh sangat sarat akan makna. Hal ini masih terpikirkan oleh saya, terngiang betapa terbatasnya pikiran manusia akan segala misteri dari Tuhan tentang betapa beragamnya umat manusia. Terngiang juga, betapa uniknya, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang sangat majemuk, terutama akan keyakinan beragama penduduknya tanpa banyak terjadi "clash" walapun pernah, tetapi mampu diredam dengan unik pula hingga mampu menciptakan sebuah harmoni yang unik. Harmoni yang saling melengkapi, saling bahu-membahu tuk mencapai kemajuan bersama. Hingga terlintas kembali; setiap hal berbeda itu ada bukan agar tercipta pertentangan/benturan atas perbedaan satu sama lain, tetapi agar tercipta sebuah harmoni sebuah keseimbangan karena masing-masing saling bisa melengkapi. Terngiang pula, bahwa ternyata setiap ajaran atau paham itu diyakini oleh manusia karena di dalamnya mengandung unsur-unsur kebaikan yang universal, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kejahatan (terkecuali tentunya, dengan agama setan).
Beragam, misteri ini masih menggelayut di pikiran saya, hingga sutu ketika saya diajak oleh rekan untuk menyaksikan Malam Budaya Aceh-Sunda. Sebuah pertunjukan seni untuk mengenang duka 5 th tsunami Aceh (26 Desember 2004). Sebenarnya, badan saya masih letih sebab baru pulang dari pelatihan part time CV Yeji. Tetapi, karena di malam budaya itu teman yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku mau tampil juga, kusempatkan untuk menghadiri acara tersebut. Dan Alhamdulilah sebuah pencerahan saya dapatkan saat menyaksikan setiap penampilan di pentas tersebut. Mulai dari puisi duka yang menggambarkan betapa durhakanya manusia akan kebaikan yang Tuhan telah berikan, hingga melupakan segala peringatan (tanda-tanda) yang datang dari alam. Hingga ke penampilan tari saman yang telah di modifikasi sedemikian rupa yang mampu menunjukkan sebuah kekompakkan, sebuah harmoni yang mengagumkan.Harmony within diversity
Dalam setiap pementasan tari saman, ditampilkan sebuah koordinasi gerakan antara satu penari dengan penari lainnya yang menyelaraskan gerakan badan, irama pengiring dan nada suara yang sungguh mengagumkan. Yang menginspirasikan, ternyata..gerakan yang sebenarnya biasa saja bila dilakukan sendirian, bisa membuat hal yang mengagumkan jika dilakukan bersama-sama dengan penari yang berbeda-beda(dalam hal warna pakaian)maupun tempo gerakan-gerakannya. Terpikirkan kembali akan misteri keberagaman yang diberikan Tuhan pada umat-umatNya. Kombinasi dari hal-hal yang berbeda dalam tari saman mampu memberikan pertunjukkan yang mengagumkan, bukankah kita yang memang sejak lahir juga tercipta dengan berbeda-beda bisa memberikan sebuah kontribusi yang mengagumkan pula. Secara personal saja kita sudah tercipta berbeda, dengan kondisi keluarga yang berbeda, masyarakat yang berbeda, hingga pendidikan yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, kita cenderung untuk mencari persamaan, dan melebih-lebihkan persamaan yang seringkali malah cuma kita buat-buat demi mengharapkan simpati atau dukungan dari pihak lain yang sebenarnya berbeda dengan kita. Padahal, bukankah akan menjadi lebih mengagumkan kalau kita tetap berada pada sisi perbedaan kita, asalkan hati kita..kaffah/totalitas dalam menjalaninya, dan terus berusaha untuk menciptakan sebuah harmony yang Indah dengan cara saling melengkapi, saling menolong, saling menyemangati, dan saling toleransi dengan segala pihak yang berbeda dengan kita, karena memang sejak lahir kita tercipta berbeda-beda pula. Dan sudah semestinya dengan semua itu kita tetap dituntut untuk bisa berkontribusi sebesar mungkin untuk menciptakan, kemajuan dan kebahagian bagi yang kita cintai; untuk diri sendiri, keluarga, kerabat, rekan, bangsa, negara, dan tentunya Tuhan kita.
maka dari itu, marilah kita ciptakan Harmony within diversity, wahai rekan-rekan yang berseberangan...untuk menciptakan kedamaian, cinta, keadilan, kebahagiaan, lewat untaian kasih sayang, sebagaimana Tuhan tlah memberikan kasih sayangNya pada kita semua.
Bisakah itu semua?
mmmph BISA, tetapi hingga saat ini, hal tersebut baru ada di UTOPIA.
Pernyataan itu masih terngiang hingga beberapa hari setelah saya baca di notifikasi status seorang rekan di seberang lautan sana. Saya sendiri heran, kenapa ya? bukannya sudah sewajarnya, dia mengucapkan hal itu, mengingat antara saya dan dia memang berbeda. Dan masing2 diantara kami tahu bahwa perbedaan itu sangat riskan akan Clash, apalagi jika sisi humanity tertekan oleh strong belief of religy.
Jadi begini kawan, mungkin sudah merupakan hal yang jadi bahasan lama soal cara muamalah (berhubungan dengan orang di luar keyakinan kita) terutama berkaitan dengan ucapan selamat atas hari besar keyakinan mereka. Sahabat saya yang di seberang lautan sana, beliau seorang yang sungguh taat menjalankan keyakinannya. Beliau seorang Christian protestant yang taat, putri yang disayangi dan menyayangi keluarga, sahabat yang mengasihi dan dikasihi rekan, kerabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya. kebetulan antara saya dengan beliau pernah bertemu di salah satu kompetisi debat marketing di Jakarta, dan beliau sungguh mampu menjadi sahabat yang baik bagi setiap orang. Hingga setelah lama tak bersua, saya tetap keep contact dengan beliau lewat facebook.
Sampai tiba waktu perayaan Natal bagi semua umat kristen di dunia. Secara pribadi atas nama sahabat saya ingin mengucapkan Merry Xmas pada beliau, mengingat Natal sangat bermakna bagi beliau. Akan tetapi, sebagai seorang yang berusaha istiqomah dalam minhaj yang saya yakini kebenarannya, saya terhalangi bahkan cenderung dilarang untuk mengucapkan hal tersebut. Hal ini disebabkan, menurut salah satu pendapat mayoritas ulama; perayaan Natal oleh umat Kristen merupakan perayaan atas kelahiran ISa Almasih sebagai Tuhan, Juru selamat, dan Messiah yang menyelamatkan seluruh umat manusia dengan kasih sayangnya, sedangkan dalam ajaran yang saya yakini, Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak lain hanyalah Hamba Allah, Nabi dan Rasul Allah yang mengEsakan Allah. Sehingga, apabila seorang muslim mengucapkan "selamat natal", berarti dia ikut mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan Messiah, maka dari itu dilarang mengucapkan hal itu karena menyangkut dengan akidah (keyakinan dalam beragama).
Namun, akhirnya saya mengucapkan selamat hari raya kepada beliau mengingat kami adalah sahabat satu sama lain, yang saling menghormati dan menghargai (toleransi) terhadap keyakinan yang dianut masing-masing. dan bagi saya pribadi, saya lebih cenderung ke pendapat Syeikh Yusuf al Qaradhawi selaku mufti Ulama Eropa perihal toleransi antara Moslem-Christian yang menyatakan bahwa hal pengucapan selamat hari raya bagi mereka diperbolehkan karena mereka adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin. Selain itu hal ini termasuk didalam perbuatan kebajikan yang tidak dilarang Allah swt tetapi malah dicintai-Nya, karena termasuk perlakuan adil atas penghormatan yang diberikan terhadap sesama (QS an Nisa:86). Jadi saya ucapkan selamat hari raya.
Uniknya, agaknya beliau tahu tentang hal ini, dan responnya unik: wish we can always stick together. semoga kita dapat selalu bersatu, bersama. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat unik, saya sendiri juga terkesan, walaupun pernyataan itu tidak diucapkan secara lisan, cuma lewat tulisan, tetapi sungguh sangat sarat akan makna. Hal ini masih terpikirkan oleh saya, terngiang betapa terbatasnya pikiran manusia akan segala misteri dari Tuhan tentang betapa beragamnya umat manusia. Terngiang juga, betapa uniknya, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang sangat majemuk, terutama akan keyakinan beragama penduduknya tanpa banyak terjadi "clash" walapun pernah, tetapi mampu diredam dengan unik pula hingga mampu menciptakan sebuah harmoni yang unik. Harmoni yang saling melengkapi, saling bahu-membahu tuk mencapai kemajuan bersama. Hingga terlintas kembali; setiap hal berbeda itu ada bukan agar tercipta pertentangan/benturan atas perbedaan satu sama lain, tetapi agar tercipta sebuah harmoni sebuah keseimbangan karena masing-masing saling bisa melengkapi. Terngiang pula, bahwa ternyata setiap ajaran atau paham itu diyakini oleh manusia karena di dalamnya mengandung unsur-unsur kebaikan yang universal, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kejahatan (terkecuali tentunya, dengan agama setan).
Beragam, misteri ini masih menggelayut di pikiran saya, hingga sutu ketika saya diajak oleh rekan untuk menyaksikan Malam Budaya Aceh-Sunda. Sebuah pertunjukan seni untuk mengenang duka 5 th tsunami Aceh (26 Desember 2004). Sebenarnya, badan saya masih letih sebab baru pulang dari pelatihan part time CV Yeji. Tetapi, karena di malam budaya itu teman yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku mau tampil juga, kusempatkan untuk menghadiri acara tersebut. Dan Alhamdulilah sebuah pencerahan saya dapatkan saat menyaksikan setiap penampilan di pentas tersebut. Mulai dari puisi duka yang menggambarkan betapa durhakanya manusia akan kebaikan yang Tuhan telah berikan, hingga melupakan segala peringatan (tanda-tanda) yang datang dari alam. Hingga ke penampilan tari saman yang telah di modifikasi sedemikian rupa yang mampu menunjukkan sebuah kekompakkan, sebuah harmoni yang mengagumkan.Harmony within diversity
Dalam setiap pementasan tari saman, ditampilkan sebuah koordinasi gerakan antara satu penari dengan penari lainnya yang menyelaraskan gerakan badan, irama pengiring dan nada suara yang sungguh mengagumkan. Yang menginspirasikan, ternyata..gerakan yang sebenarnya biasa saja bila dilakukan sendirian, bisa membuat hal yang mengagumkan jika dilakukan bersama-sama dengan penari yang berbeda-beda(dalam hal warna pakaian)maupun tempo gerakan-gerakannya. Terpikirkan kembali akan misteri keberagaman yang diberikan Tuhan pada umat-umatNya. Kombinasi dari hal-hal yang berbeda dalam tari saman mampu memberikan pertunjukkan yang mengagumkan, bukankah kita yang memang sejak lahir juga tercipta dengan berbeda-beda bisa memberikan sebuah kontribusi yang mengagumkan pula. Secara personal saja kita sudah tercipta berbeda, dengan kondisi keluarga yang berbeda, masyarakat yang berbeda, hingga pendidikan yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, kita cenderung untuk mencari persamaan, dan melebih-lebihkan persamaan yang seringkali malah cuma kita buat-buat demi mengharapkan simpati atau dukungan dari pihak lain yang sebenarnya berbeda dengan kita. Padahal, bukankah akan menjadi lebih mengagumkan kalau kita tetap berada pada sisi perbedaan kita, asalkan hati kita..kaffah/totalitas dalam menjalaninya, dan terus berusaha untuk menciptakan sebuah harmony yang Indah dengan cara saling melengkapi, saling menolong, saling menyemangati, dan saling toleransi dengan segala pihak yang berbeda dengan kita, karena memang sejak lahir kita tercipta berbeda-beda pula. Dan sudah semestinya dengan semua itu kita tetap dituntut untuk bisa berkontribusi sebesar mungkin untuk menciptakan, kemajuan dan kebahagian bagi yang kita cintai; untuk diri sendiri, keluarga, kerabat, rekan, bangsa, negara, dan tentunya Tuhan kita.
maka dari itu, marilah kita ciptakan Harmony within diversity, wahai rekan-rekan yang berseberangan...untuk menciptakan kedamaian, cinta, keadilan, kebahagiaan, lewat untaian kasih sayang, sebagaimana Tuhan tlah memberikan kasih sayangNya pada kita semua.
Bisakah itu semua?
mmmph BISA, tetapi hingga saat ini, hal tersebut baru ada di UTOPIA.
Subscribe to:
Posts (Atom)
