Saturday, 26 December 2009

Harmony within diversity ( a problem solving inspiration from malam budaya Aceh-Sunda @ Dago tea, 26/12/09

wish we can always stick together..^^ (facebook notifications 25/12/09 2:56pm)

Pernyataan itu masih terngiang hingga beberapa hari setelah saya baca di notifikasi status seorang rekan di seberang lautan sana. Saya sendiri heran, kenapa ya? bukannya sudah sewajarnya, dia mengucapkan hal itu, mengingat antara saya dan dia memang berbeda. Dan masing2 diantara kami tahu bahwa perbedaan itu sangat riskan akan Clash, apalagi jika sisi humanity tertekan oleh strong belief of religy.

Jadi begini kawan, mungkin sudah merupakan hal yang jadi bahasan lama soal cara muamalah (berhubungan dengan orang di luar keyakinan kita) terutama berkaitan dengan ucapan selamat atas hari besar keyakinan mereka. Sahabat saya yang di seberang lautan sana, beliau seorang yang sungguh taat menjalankan keyakinannya. Beliau seorang Christian protestant yang taat, putri yang disayangi dan menyayangi keluarga, sahabat yang mengasihi dan dikasihi rekan, kerabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya. kebetulan antara saya dengan beliau pernah bertemu di salah satu kompetisi debat marketing di Jakarta, dan beliau sungguh mampu menjadi sahabat yang baik bagi setiap orang. Hingga setelah lama tak bersua, saya tetap keep contact dengan beliau lewat facebook.

Sampai tiba waktu perayaan Natal bagi semua umat kristen di dunia. Secara pribadi atas nama sahabat saya ingin mengucapkan Merry Xmas pada beliau, mengingat Natal sangat bermakna bagi beliau. Akan tetapi, sebagai seorang yang berusaha istiqomah dalam minhaj yang saya yakini kebenarannya, saya terhalangi bahkan cenderung dilarang untuk mengucapkan hal tersebut. Hal ini disebabkan, menurut salah satu pendapat mayoritas ulama; perayaan Natal oleh umat Kristen merupakan perayaan atas kelahiran ISa Almasih sebagai Tuhan, Juru selamat, dan Messiah yang menyelamatkan seluruh umat manusia dengan kasih sayangnya, sedangkan dalam ajaran yang saya yakini, Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak lain hanyalah Hamba Allah, Nabi dan Rasul Allah yang mengEsakan Allah. Sehingga, apabila seorang muslim mengucapkan "selamat natal", berarti dia ikut mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan Messiah, maka dari itu dilarang mengucapkan hal itu karena menyangkut dengan akidah (keyakinan dalam beragama).

Namun, akhirnya saya mengucapkan selamat hari raya kepada beliau mengingat kami adalah sahabat satu sama lain, yang saling menghormati dan menghargai (toleransi) terhadap keyakinan yang dianut masing-masing. dan bagi saya pribadi, saya lebih cenderung ke pendapat Syeikh Yusuf al Qaradhawi selaku mufti Ulama Eropa perihal toleransi antara Moslem-Christian yang menyatakan bahwa hal pengucapan selamat hari raya bagi mereka diperbolehkan karena mereka adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin. Selain itu hal ini termasuk didalam perbuatan kebajikan yang tidak dilarang Allah swt tetapi malah dicintai-Nya, karena termasuk perlakuan adil atas penghormatan yang diberikan terhadap sesama (QS an Nisa:86). Jadi saya ucapkan selamat hari raya.

Uniknya, agaknya beliau tahu tentang hal ini, dan responnya unik: wish we can always stick together. semoga kita dapat selalu bersatu, bersama. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat unik, saya sendiri juga terkesan, walaupun pernyataan itu tidak diucapkan secara lisan, cuma lewat tulisan, tetapi sungguh sangat sarat akan makna. Hal ini masih terpikirkan oleh saya, terngiang betapa terbatasnya pikiran manusia akan segala misteri dari Tuhan tentang betapa beragamnya umat manusia. Terngiang juga, betapa uniknya, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang sangat majemuk, terutama akan keyakinan beragama penduduknya tanpa banyak terjadi "clash" walapun pernah, tetapi mampu diredam dengan unik pula hingga mampu menciptakan sebuah harmoni yang unik. Harmoni yang saling melengkapi, saling bahu-membahu tuk mencapai kemajuan bersama. Hingga terlintas kembali; setiap hal berbeda itu ada bukan agar tercipta pertentangan/benturan atas perbedaan satu sama lain, tetapi agar tercipta sebuah harmoni sebuah keseimbangan karena masing-masing saling bisa melengkapi. Terngiang pula, bahwa ternyata setiap ajaran atau paham itu diyakini oleh manusia karena di dalamnya mengandung unsur-unsur kebaikan yang universal, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kejahatan (terkecuali tentunya, dengan agama setan).

Beragam, misteri ini masih menggelayut di pikiran saya, hingga sutu ketika saya diajak oleh rekan untuk menyaksikan Malam Budaya Aceh-Sunda. Sebuah pertunjukan seni untuk mengenang duka 5 th tsunami Aceh (26 Desember 2004). Sebenarnya, badan saya masih letih sebab baru pulang dari pelatihan part time CV Yeji. Tetapi, karena di malam budaya itu teman yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku mau tampil juga, kusempatkan untuk menghadiri acara tersebut. Dan Alhamdulilah sebuah pencerahan saya dapatkan saat menyaksikan setiap penampilan di pentas tersebut. Mulai dari puisi duka yang menggambarkan betapa durhakanya manusia akan kebaikan yang Tuhan telah berikan, hingga melupakan segala peringatan (tanda-tanda) yang datang dari alam. Hingga ke penampilan tari saman yang telah di modifikasi sedemikian rupa yang mampu menunjukkan sebuah kekompakkan, sebuah harmoni yang mengagumkan.Harmony within diversity

Dalam setiap pementasan tari saman, ditampilkan sebuah koordinasi gerakan antara satu penari dengan penari lainnya yang menyelaraskan gerakan badan, irama pengiring dan nada suara yang sungguh mengagumkan. Yang menginspirasikan, ternyata..gerakan yang sebenarnya biasa saja bila dilakukan sendirian, bisa membuat hal yang mengagumkan jika dilakukan bersama-sama dengan penari yang berbeda-beda(dalam hal warna pakaian)maupun tempo gerakan-gerakannya. Terpikirkan kembali akan misteri keberagaman yang diberikan Tuhan pada umat-umatNya. Kombinasi dari hal-hal yang berbeda dalam tari saman mampu memberikan pertunjukkan yang mengagumkan, bukankah kita yang memang sejak lahir juga tercipta dengan berbeda-beda bisa memberikan sebuah kontribusi yang mengagumkan pula. Secara personal saja kita sudah tercipta berbeda, dengan kondisi keluarga yang berbeda, masyarakat yang berbeda, hingga pendidikan yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, kita cenderung untuk mencari persamaan, dan melebih-lebihkan persamaan yang seringkali malah cuma kita buat-buat demi mengharapkan simpati atau dukungan dari pihak lain yang sebenarnya berbeda dengan kita. Padahal, bukankah akan menjadi lebih mengagumkan kalau kita tetap berada pada sisi perbedaan kita, asalkan hati kita..kaffah/totalitas dalam menjalaninya, dan terus berusaha untuk menciptakan sebuah harmony yang Indah dengan cara saling melengkapi, saling menolong, saling menyemangati, dan saling toleransi dengan segala pihak yang berbeda dengan kita, karena memang sejak lahir kita tercipta berbeda-beda pula. Dan sudah semestinya dengan semua itu kita tetap dituntut untuk bisa berkontribusi sebesar mungkin untuk menciptakan, kemajuan dan kebahagian bagi yang kita cintai; untuk diri sendiri, keluarga, kerabat, rekan, bangsa, negara, dan tentunya Tuhan kita.

maka dari itu, marilah kita ciptakan Harmony within diversity, wahai rekan-rekan yang berseberangan...untuk menciptakan kedamaian, cinta, keadilan, kebahagiaan, lewat untaian kasih sayang, sebagaimana Tuhan tlah memberikan kasih sayangNya pada kita semua.

Bisakah itu semua?

mmmph BISA, tetapi hingga saat ini, hal tersebut baru ada di UTOPIA.

No comments:

Post a Comment