Perayaan Tahun baru adalah suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Bangsa-bangsa atau umat yang mempunyai kalender tahunan biasanya mempunyai perayaan tahun baru. Tapi apakah semua umat merayakan tahun barunya? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, kami berusaha menelusuri kembali sejarah perayaan tahun baru berbagai bangsa dan umat di dunia serta hukum merayakannya bagi kaum muslimin.
Perayaan Tahun Baru Umat Yahudi
Agama dan Umat Yahudi merayakan Tahun Baru mereka tidak pada hari ke-1 bulan ke-1 Kalender Ibrani (bulan Nisan), tetapi pada hari ke-1 bulan ke-7 Kalendar Ibrani (bulan Tishrei). Umat Yahudi menyebut Perayaan Tahun Baru mereka dengan nama Rosh Hashanah, yang berarti “Kepala Tahun”.
Rosh Hashanah ini digunakan umat Yahudi untuk memperingati penciptaan dunia seperti yang ditulis dalam kitab mereka. Mereka merayakannya dengan cara berdoa di sinagog, mendengar bunyi shofar (tanduk). Menyediakan makanan pesta berupa roti challah yang bundar dan apel yang dicelupkan ke dalam madu, juga kepala ikan dan buah delima. Buah-buahan baru disajikan pada malam kedua. Pada Perayaan Tahun Baru ini mereka beristirahat dari aktivitas kerja.
Jika memakai kalender Gregorian (Kalender Masehi), Tahun Baru Yahudi ini dirayakan pada bulan September. Misalnya tahun 2008 M Rosh Hashanah jatuh pada 29 September 2008. Tanggal itu ekivalen dengan tanggal 1 Tishrei 5769 AM (Anno Mundi). Anno Mundi adalah bahasa latin yang artinya “dalam hitungan tahun dunia”, disingkat A.M. karena orang Yahudi menganggap kalender mereka dimulai dari tanggal kelahiran Adam. Menurut perhitungan Kalender Ibrani, tanggal 1 bulan Tishrei tahun ke-1 AM adalah ekivalen dengan hari Senin, tanggal 7 Oktober tahun 3761 BCE dalam Kalender Julian (Kalender Romawi Kuno).
Ketika Panglima Pompey dari Kekaisaran Romawi Kuno menguasai Yerusalem pada tahun 63 SM, orang-orang Yahudi mulai mengikuti Kalender Julian (Kalender Bangsa Romawi yang menjajahnya). Dan setelah berdiri negara Israel pada tahun 1948 M, mulai tahun 1950an M Kalender Ibrani menurun penggunaannya dalam kehidupan bangsa Yahudi sekuler. Mereka lebih menyukai Kalender Gregorian untuk kehidupan pribadi dan kehidupan publik mereka. Dan sejak tahun 1980an, bangsa Yahudi sekuler justru mengadopsi kebiasaan Perayaan Tahun Baru Gregorian (Tahun Baru Masehi) yang biasanya dikenal dengan sebutan ”Sylvester Night” dengan berpesta pada malam 31 Desember hingga 1 Januari.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Cina
Bangsa Cina merayakan tahun baru mereka pada malam bulan baru pada musim dingin (antara akhir Januari hingga awal Februari) atau jika memakai kalender Gregorian tahun baru ini terletak antara 21 Januari hingga 20 Februari. Mereka menyebutnya dengan nama Imlek.
Perayaan ini dimulai di hari ke-1 bulan pertama (zh?ng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Chúx? yang berarti “malam pergantian tahun”.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun secara umum berisi perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek sebagai makna keberuntungan. Selama perayaan tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: “G?ngx? f?cái” yang artinya “selamat dan semoga banyak rejeki”.
Tahun Baru Imlek dirayakan oleh orang Tionghoa di Daratan Tiongkok, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, Jepang (sebelum 1873), Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan tempat-tempat lain.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Persia
Orang Persia menamakan perayaan tahun baru mereka dengan nama Norouz. Norouz adalah perayaan (hari pertama) musim semi dan awal Kalender Persia. Orang Persia punya Kalender Persia yang didasarkan dari musim dan pergerakan matahari. Kata ”norouz” berasal dari bahasa Avesta yang berarti “hari baru”. Oleh bangsa Persia, hari ini dirayakan pada tanggal 21 Maret jika memakai Kalender Gregorian..
Sejak Kekaisaran Dinasti Arsacid/ Parthian, yang memerintah Iran pada 248 SM-224 M, Norouz dijadikan hari libur. Mereka merayakannya dengan mempersembahkan hadiah telur sebagai lambang produktivitas.
Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang yang terpengaruh Zoroastirianisme yang tersebar di Iran, Iraq, Afganistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Kurdistan, Pakistan, Kashmir, beberapa tempat di India, Syria, Kurdi, Turki, Armenia, Caucasus, Crimea, Georgia, Azerbaijan, Macedonia, Bosnia, Kosovo, dan Albania.
PERAYAAN TAHUN BARU BANGSA Romawi KUNO
Sejak Abad ke-7 SM bangsa romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali revisi. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.
Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian . Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli). Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.
Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur dan semua Senat dapat berkumpul untuk memilih Konsul. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.
Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.
PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Kristen
Sejak Konstantinus yang Agung menduduki tahta Kaisar Romawi tahun 312 M, Kristen menjadi agama yang legal di Kekaisaran Romawi Kuno. Bahkan tanggal 27 Februari 380 M Kaisar Theodosius mengeluarkan sebuah maklumat, De Fide Catolica, di Tesalonika, yang dipublikasikan di Konstantinopel, yang menyatakan bahwa Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi Kuno. Di Abad-abab Pertengahan (middle ages), abad ke-5 hingga abad ke-15 M, Kristen memegang peranan dominan di Kekaisaran Romawi hingga ke negara-negara Eropa lainnya.
Berdasarkan keputusan Konsili Tours tahun 567 umat Kristen ikut merayakan Tahun Baru dan mereka mengadakan puasa khusus serta ekaristi. Kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, yakni hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru.
Umat Kristen menggunakan Kalender yang dinamakan Kalender Masehi. Mereka menggunakan penghitungan tahun dan bulan Kalender Julian, namun menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1 Masehi), walaupun sejarah menempatkan kelahiran Yesus pada waktu antara tahun 6 dan 4 SM.
Setelah meninggalkan Abad-abad Pertengahan, pada tahun 1582 M Kalender Julian diganti dengan Kalender Gregorian. Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. Dekrit ini disahkan pada tanggal 24 Februari 1582 M. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 Kalender Julian, esoknya adalah tanggal 15 Oktober 1582 Kalender Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah Kalender Gregorian. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.
Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti Kalender Julian sehingga perayaan Natal dan Tahun Baru mereka berbeda dengan gereja Katolik Roma.
Pada tahun 1582 M Paus Gregorius XIII juga mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Hingga kini, Umat Kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.
PERAYAAN TAHUN BARU UMAT Islam
Tidak seperti bangsa dan umat terdahulu, Islam tidak merayakan tahun baru. Rasulullah Muhammad saw bahkan melarang meniru (tasyabbuh) budaya bangsa dan umat sebelum datangnya Islam seperti Umat Yahudi, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, dan Umat Nasrani yang merayakan Tahun Baru mereka. Rasulullah saw bersabda:
Man tasyabbaHa bi qaumin faHuwa minHum.
Artinya: Siapa saja yang menyerupai suatu kaum/ bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi)
Dan khusus tentang hari raya, Rasulullah saw membatasi hari raya umat Islam hanya pada Idul Adhha dan Idul Fithri, lain itu tidak. Rasulullah saw bersabda:
Kullu ummatin iidan. Wa haadzihi iidunaa: iidul adhhaa dan iidul fithri
Artinya: Setiap ummat punya hari raya. Dan inilah hari raya kita: Idul Adhha dan Idul Fithri.
Ketika Rasulullah saw masih hidup (570 – 632 M), Umat Islam menggunakan sistem penanggalan Arab pra-Islam. Sistem kalender ini berbasis campuran antara bulan (qomariyah) dan matahari (syamsiyah).
Setelah Khilafah Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia untuk selamanya dan membebaskan Wilayah Syam dari Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 17 H atau ekivalen dengan 638 M, di masa pemerintahan Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab diresmikanlah penggunaan Kalender Hijriyah. Dinamakan Kalender Hijriyah karena ‘Umar menetapkan awal patokan penanggalan Islam ini adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrahnya Rasulullah saw tersebut adalah pertolongan Allah yang membuat perubahan besar pada perkembangan Islam. Sejak hijrah ke Madinah mulailah terbentuk Negara Islam dan Umat Islam.
Kalender Hijriyah dihitung dengan pergerakan bulan. Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtima’). Setahun terdiri dari 12 bulan: Muharram, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah. Satu minggu terdiri dari 7 hari: al-Ahad, al-Itsnayn, ats-Tsalaatsa’ , al-Arba’aa / ar-Raabi’, al-Kamsatun, al-Jumu’ah (Jumat), dan as-Sabat. Ketika melakukan perjalanan ke Syam, Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab sempat membandingkan kalendar Hijriyah dengan kalendar-kalendar Persia dan Romawi. Umar berkesimpulan bahwa kalendar Hijriyah lebih baik.
Walaupun Kalender Hijriyah telah dipakai resmi di masa pemerintahan Amirul Mu`minin Umar bin Khaththab, namun para sahabat di masa itu tidak berpikir untuk merayakan 1 Muharram (awal tahun Hijriyah) sebagai Perayaan Tahun Baru Islam. Mereka berkonsentrasi penuh untuk mengokohkan penegakkan syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Mereka tidak pernah berpikir untuk mengadakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh Islam dan tidak dilakukan oleh Rasululah saw. Yang demikian itu terus berlanjut pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dan sebagian besar masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Bahkan hingga masa negara Buwaihiyah, negara syi’ah yang memisahkan diri dari daulah Islamiyah Abbasiyah, negara syi’ah ini pun tidak pernah berpikir untuk menambah-nambah perayaan yang tidak diteladankan Rasulullah saw.
Karena memuliakan Islam bukan dengan cara membuat perayaan tahun baru hijriyah, tetapi dengan mengikuti sunnah nabi, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, dan menjadikannya dasar hukum dan petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Sayangnya, pada abad ke-4 H kaum Syiah kelompok al-‘Ubadiyyun dari sekte Ismailiyah yang lebih dikenal dengan kaum Fathimiyun membuat hari raya tahun baru hijriyah. Kelompok ini mendirikan negara di Mesir yang terpisah dari Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Mereka ingin meniru apa yang ada pada umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Maka benarlah sabda Rasulullah saw
Akan datang suatu masa dimana kalian akan mengikuti cara hidup bangsa-bangsa sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Sampai ketika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun ikut memasukinya. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”
Dalam hadits lain: Para sahabat bertanya, “apakah mereka Romawi dan Pers?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?”
Sejak saat itu Tahun baru Hijriyah dalam kalender Hijriyah dirayakan setiap tanggal 1 Muharam. Termasuk umat Islam di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Sunni, juga ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Hijriyah yang direkayasa oleh kaum Syiah Ismailiyah yang telah murtad itu. Adapun pemerintah yang berkuasa di Indonesia lebih parah lagi, ikut merayakan Tahun Baru Masehi tanggal 1 Januari karena mengadopsi kalender Gregorian. Dan ternyata tidak hanya perayaan tahun baru yang ditiru dari bangsa dan umat selain Islam, tetapi juga dalam keyakinan, perilaku, budaya, sistem hukum dan pemerintahannya pun meniru bangsa dan umat selain Islam.
PERAYAAN TAHUN BARU KAUM SEKULER
Mengikuti budaya Romawi dan Kristen, di Era Sekuler Negara-negara Barat merayakan Tahun Baru tanggal 1 Januari. Tahun 1752 Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan kalender Gregorian.
Di Inggris, Untuk merayakan Tahun Baru para suami memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.
Di Amerika serikat, Tahun Baru dijadikan sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Amerika. Perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember. Orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, dimana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Esok harinya, tanggal 1 Januari, orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi yang berisi Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba-lomba futbol Amerika dilangsungkan di berbagai kota di Amerika.
Ya Allah semoga penyampaian sejarah ini bisa membuka mata dan hati kami semua. Amin.
repot from:Umar Abdullah
http://mediaislamnet.com/2009/12/sejarah-perayaan-tahun-baru-berbagai-bangsa-dan-umat-di-dunia/
Thursday, 31 December 2009
Saturday, 26 December 2009
Harmony within diversity ( a problem solving inspiration from malam budaya Aceh-Sunda @ Dago tea, 26/12/09
wish we can always stick together..^^ (facebook notifications 25/12/09 2:56pm)
Pernyataan itu masih terngiang hingga beberapa hari setelah saya baca di notifikasi status seorang rekan di seberang lautan sana. Saya sendiri heran, kenapa ya? bukannya sudah sewajarnya, dia mengucapkan hal itu, mengingat antara saya dan dia memang berbeda. Dan masing2 diantara kami tahu bahwa perbedaan itu sangat riskan akan Clash, apalagi jika sisi humanity tertekan oleh strong belief of religy.
Jadi begini kawan, mungkin sudah merupakan hal yang jadi bahasan lama soal cara muamalah (berhubungan dengan orang di luar keyakinan kita) terutama berkaitan dengan ucapan selamat atas hari besar keyakinan mereka. Sahabat saya yang di seberang lautan sana, beliau seorang yang sungguh taat menjalankan keyakinannya. Beliau seorang Christian protestant yang taat, putri yang disayangi dan menyayangi keluarga, sahabat yang mengasihi dan dikasihi rekan, kerabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya. kebetulan antara saya dengan beliau pernah bertemu di salah satu kompetisi debat marketing di Jakarta, dan beliau sungguh mampu menjadi sahabat yang baik bagi setiap orang. Hingga setelah lama tak bersua, saya tetap keep contact dengan beliau lewat facebook.
Sampai tiba waktu perayaan Natal bagi semua umat kristen di dunia. Secara pribadi atas nama sahabat saya ingin mengucapkan Merry Xmas pada beliau, mengingat Natal sangat bermakna bagi beliau. Akan tetapi, sebagai seorang yang berusaha istiqomah dalam minhaj yang saya yakini kebenarannya, saya terhalangi bahkan cenderung dilarang untuk mengucapkan hal tersebut. Hal ini disebabkan, menurut salah satu pendapat mayoritas ulama; perayaan Natal oleh umat Kristen merupakan perayaan atas kelahiran ISa Almasih sebagai Tuhan, Juru selamat, dan Messiah yang menyelamatkan seluruh umat manusia dengan kasih sayangnya, sedangkan dalam ajaran yang saya yakini, Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak lain hanyalah Hamba Allah, Nabi dan Rasul Allah yang mengEsakan Allah. Sehingga, apabila seorang muslim mengucapkan "selamat natal", berarti dia ikut mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan Messiah, maka dari itu dilarang mengucapkan hal itu karena menyangkut dengan akidah (keyakinan dalam beragama).
Namun, akhirnya saya mengucapkan selamat hari raya kepada beliau mengingat kami adalah sahabat satu sama lain, yang saling menghormati dan menghargai (toleransi) terhadap keyakinan yang dianut masing-masing. dan bagi saya pribadi, saya lebih cenderung ke pendapat Syeikh Yusuf al Qaradhawi selaku mufti Ulama Eropa perihal toleransi antara Moslem-Christian yang menyatakan bahwa hal pengucapan selamat hari raya bagi mereka diperbolehkan karena mereka adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin. Selain itu hal ini termasuk didalam perbuatan kebajikan yang tidak dilarang Allah swt tetapi malah dicintai-Nya, karena termasuk perlakuan adil atas penghormatan yang diberikan terhadap sesama (QS an Nisa:86). Jadi saya ucapkan selamat hari raya.
Uniknya, agaknya beliau tahu tentang hal ini, dan responnya unik: wish we can always stick together. semoga kita dapat selalu bersatu, bersama. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat unik, saya sendiri juga terkesan, walaupun pernyataan itu tidak diucapkan secara lisan, cuma lewat tulisan, tetapi sungguh sangat sarat akan makna. Hal ini masih terpikirkan oleh saya, terngiang betapa terbatasnya pikiran manusia akan segala misteri dari Tuhan tentang betapa beragamnya umat manusia. Terngiang juga, betapa uniknya, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang sangat majemuk, terutama akan keyakinan beragama penduduknya tanpa banyak terjadi "clash" walapun pernah, tetapi mampu diredam dengan unik pula hingga mampu menciptakan sebuah harmoni yang unik. Harmoni yang saling melengkapi, saling bahu-membahu tuk mencapai kemajuan bersama. Hingga terlintas kembali; setiap hal berbeda itu ada bukan agar tercipta pertentangan/benturan atas perbedaan satu sama lain, tetapi agar tercipta sebuah harmoni sebuah keseimbangan karena masing-masing saling bisa melengkapi. Terngiang pula, bahwa ternyata setiap ajaran atau paham itu diyakini oleh manusia karena di dalamnya mengandung unsur-unsur kebaikan yang universal, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kejahatan (terkecuali tentunya, dengan agama setan).
Beragam, misteri ini masih menggelayut di pikiran saya, hingga sutu ketika saya diajak oleh rekan untuk menyaksikan Malam Budaya Aceh-Sunda. Sebuah pertunjukan seni untuk mengenang duka 5 th tsunami Aceh (26 Desember 2004). Sebenarnya, badan saya masih letih sebab baru pulang dari pelatihan part time CV Yeji. Tetapi, karena di malam budaya itu teman yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku mau tampil juga, kusempatkan untuk menghadiri acara tersebut. Dan Alhamdulilah sebuah pencerahan saya dapatkan saat menyaksikan setiap penampilan di pentas tersebut. Mulai dari puisi duka yang menggambarkan betapa durhakanya manusia akan kebaikan yang Tuhan telah berikan, hingga melupakan segala peringatan (tanda-tanda) yang datang dari alam. Hingga ke penampilan tari saman yang telah di modifikasi sedemikian rupa yang mampu menunjukkan sebuah kekompakkan, sebuah harmoni yang mengagumkan.Harmony within diversity
Dalam setiap pementasan tari saman, ditampilkan sebuah koordinasi gerakan antara satu penari dengan penari lainnya yang menyelaraskan gerakan badan, irama pengiring dan nada suara yang sungguh mengagumkan. Yang menginspirasikan, ternyata..gerakan yang sebenarnya biasa saja bila dilakukan sendirian, bisa membuat hal yang mengagumkan jika dilakukan bersama-sama dengan penari yang berbeda-beda(dalam hal warna pakaian)maupun tempo gerakan-gerakannya. Terpikirkan kembali akan misteri keberagaman yang diberikan Tuhan pada umat-umatNya. Kombinasi dari hal-hal yang berbeda dalam tari saman mampu memberikan pertunjukkan yang mengagumkan, bukankah kita yang memang sejak lahir juga tercipta dengan berbeda-beda bisa memberikan sebuah kontribusi yang mengagumkan pula. Secara personal saja kita sudah tercipta berbeda, dengan kondisi keluarga yang berbeda, masyarakat yang berbeda, hingga pendidikan yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, kita cenderung untuk mencari persamaan, dan melebih-lebihkan persamaan yang seringkali malah cuma kita buat-buat demi mengharapkan simpati atau dukungan dari pihak lain yang sebenarnya berbeda dengan kita. Padahal, bukankah akan menjadi lebih mengagumkan kalau kita tetap berada pada sisi perbedaan kita, asalkan hati kita..kaffah/totalitas dalam menjalaninya, dan terus berusaha untuk menciptakan sebuah harmony yang Indah dengan cara saling melengkapi, saling menolong, saling menyemangati, dan saling toleransi dengan segala pihak yang berbeda dengan kita, karena memang sejak lahir kita tercipta berbeda-beda pula. Dan sudah semestinya dengan semua itu kita tetap dituntut untuk bisa berkontribusi sebesar mungkin untuk menciptakan, kemajuan dan kebahagian bagi yang kita cintai; untuk diri sendiri, keluarga, kerabat, rekan, bangsa, negara, dan tentunya Tuhan kita.
maka dari itu, marilah kita ciptakan Harmony within diversity, wahai rekan-rekan yang berseberangan...untuk menciptakan kedamaian, cinta, keadilan, kebahagiaan, lewat untaian kasih sayang, sebagaimana Tuhan tlah memberikan kasih sayangNya pada kita semua.
Bisakah itu semua?
mmmph BISA, tetapi hingga saat ini, hal tersebut baru ada di UTOPIA.
Pernyataan itu masih terngiang hingga beberapa hari setelah saya baca di notifikasi status seorang rekan di seberang lautan sana. Saya sendiri heran, kenapa ya? bukannya sudah sewajarnya, dia mengucapkan hal itu, mengingat antara saya dan dia memang berbeda. Dan masing2 diantara kami tahu bahwa perbedaan itu sangat riskan akan Clash, apalagi jika sisi humanity tertekan oleh strong belief of religy.
Jadi begini kawan, mungkin sudah merupakan hal yang jadi bahasan lama soal cara muamalah (berhubungan dengan orang di luar keyakinan kita) terutama berkaitan dengan ucapan selamat atas hari besar keyakinan mereka. Sahabat saya yang di seberang lautan sana, beliau seorang yang sungguh taat menjalankan keyakinannya. Beliau seorang Christian protestant yang taat, putri yang disayangi dan menyayangi keluarga, sahabat yang mengasihi dan dikasihi rekan, kerabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya. kebetulan antara saya dengan beliau pernah bertemu di salah satu kompetisi debat marketing di Jakarta, dan beliau sungguh mampu menjadi sahabat yang baik bagi setiap orang. Hingga setelah lama tak bersua, saya tetap keep contact dengan beliau lewat facebook.
Sampai tiba waktu perayaan Natal bagi semua umat kristen di dunia. Secara pribadi atas nama sahabat saya ingin mengucapkan Merry Xmas pada beliau, mengingat Natal sangat bermakna bagi beliau. Akan tetapi, sebagai seorang yang berusaha istiqomah dalam minhaj yang saya yakini kebenarannya, saya terhalangi bahkan cenderung dilarang untuk mengucapkan hal tersebut. Hal ini disebabkan, menurut salah satu pendapat mayoritas ulama; perayaan Natal oleh umat Kristen merupakan perayaan atas kelahiran ISa Almasih sebagai Tuhan, Juru selamat, dan Messiah yang menyelamatkan seluruh umat manusia dengan kasih sayangnya, sedangkan dalam ajaran yang saya yakini, Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak lain hanyalah Hamba Allah, Nabi dan Rasul Allah yang mengEsakan Allah. Sehingga, apabila seorang muslim mengucapkan "selamat natal", berarti dia ikut mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan Messiah, maka dari itu dilarang mengucapkan hal itu karena menyangkut dengan akidah (keyakinan dalam beragama).
Namun, akhirnya saya mengucapkan selamat hari raya kepada beliau mengingat kami adalah sahabat satu sama lain, yang saling menghormati dan menghargai (toleransi) terhadap keyakinan yang dianut masing-masing. dan bagi saya pribadi, saya lebih cenderung ke pendapat Syeikh Yusuf al Qaradhawi selaku mufti Ulama Eropa perihal toleransi antara Moslem-Christian yang menyatakan bahwa hal pengucapan selamat hari raya bagi mereka diperbolehkan karena mereka adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin. Selain itu hal ini termasuk didalam perbuatan kebajikan yang tidak dilarang Allah swt tetapi malah dicintai-Nya, karena termasuk perlakuan adil atas penghormatan yang diberikan terhadap sesama (QS an Nisa:86). Jadi saya ucapkan selamat hari raya.
Uniknya, agaknya beliau tahu tentang hal ini, dan responnya unik: wish we can always stick together. semoga kita dapat selalu bersatu, bersama. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat unik, saya sendiri juga terkesan, walaupun pernyataan itu tidak diucapkan secara lisan, cuma lewat tulisan, tetapi sungguh sangat sarat akan makna. Hal ini masih terpikirkan oleh saya, terngiang betapa terbatasnya pikiran manusia akan segala misteri dari Tuhan tentang betapa beragamnya umat manusia. Terngiang juga, betapa uniknya, bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang sangat majemuk, terutama akan keyakinan beragama penduduknya tanpa banyak terjadi "clash" walapun pernah, tetapi mampu diredam dengan unik pula hingga mampu menciptakan sebuah harmoni yang unik. Harmoni yang saling melengkapi, saling bahu-membahu tuk mencapai kemajuan bersama. Hingga terlintas kembali; setiap hal berbeda itu ada bukan agar tercipta pertentangan/benturan atas perbedaan satu sama lain, tetapi agar tercipta sebuah harmoni sebuah keseimbangan karena masing-masing saling bisa melengkapi. Terngiang pula, bahwa ternyata setiap ajaran atau paham itu diyakini oleh manusia karena di dalamnya mengandung unsur-unsur kebaikan yang universal, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kejahatan (terkecuali tentunya, dengan agama setan).
Beragam, misteri ini masih menggelayut di pikiran saya, hingga sutu ketika saya diajak oleh rekan untuk menyaksikan Malam Budaya Aceh-Sunda. Sebuah pertunjukan seni untuk mengenang duka 5 th tsunami Aceh (26 Desember 2004). Sebenarnya, badan saya masih letih sebab baru pulang dari pelatihan part time CV Yeji. Tetapi, karena di malam budaya itu teman yang sudah kuanggap seperti kakak kandungku mau tampil juga, kusempatkan untuk menghadiri acara tersebut. Dan Alhamdulilah sebuah pencerahan saya dapatkan saat menyaksikan setiap penampilan di pentas tersebut. Mulai dari puisi duka yang menggambarkan betapa durhakanya manusia akan kebaikan yang Tuhan telah berikan, hingga melupakan segala peringatan (tanda-tanda) yang datang dari alam. Hingga ke penampilan tari saman yang telah di modifikasi sedemikian rupa yang mampu menunjukkan sebuah kekompakkan, sebuah harmoni yang mengagumkan.Harmony within diversity
Dalam setiap pementasan tari saman, ditampilkan sebuah koordinasi gerakan antara satu penari dengan penari lainnya yang menyelaraskan gerakan badan, irama pengiring dan nada suara yang sungguh mengagumkan. Yang menginspirasikan, ternyata..gerakan yang sebenarnya biasa saja bila dilakukan sendirian, bisa membuat hal yang mengagumkan jika dilakukan bersama-sama dengan penari yang berbeda-beda(dalam hal warna pakaian)maupun tempo gerakan-gerakannya. Terpikirkan kembali akan misteri keberagaman yang diberikan Tuhan pada umat-umatNya. Kombinasi dari hal-hal yang berbeda dalam tari saman mampu memberikan pertunjukkan yang mengagumkan, bukankah kita yang memang sejak lahir juga tercipta dengan berbeda-beda bisa memberikan sebuah kontribusi yang mengagumkan pula. Secara personal saja kita sudah tercipta berbeda, dengan kondisi keluarga yang berbeda, masyarakat yang berbeda, hingga pendidikan yang berbeda-beda pula. Akan tetapi, kita cenderung untuk mencari persamaan, dan melebih-lebihkan persamaan yang seringkali malah cuma kita buat-buat demi mengharapkan simpati atau dukungan dari pihak lain yang sebenarnya berbeda dengan kita. Padahal, bukankah akan menjadi lebih mengagumkan kalau kita tetap berada pada sisi perbedaan kita, asalkan hati kita..kaffah/totalitas dalam menjalaninya, dan terus berusaha untuk menciptakan sebuah harmony yang Indah dengan cara saling melengkapi, saling menolong, saling menyemangati, dan saling toleransi dengan segala pihak yang berbeda dengan kita, karena memang sejak lahir kita tercipta berbeda-beda pula. Dan sudah semestinya dengan semua itu kita tetap dituntut untuk bisa berkontribusi sebesar mungkin untuk menciptakan, kemajuan dan kebahagian bagi yang kita cintai; untuk diri sendiri, keluarga, kerabat, rekan, bangsa, negara, dan tentunya Tuhan kita.
maka dari itu, marilah kita ciptakan Harmony within diversity, wahai rekan-rekan yang berseberangan...untuk menciptakan kedamaian, cinta, keadilan, kebahagiaan, lewat untaian kasih sayang, sebagaimana Tuhan tlah memberikan kasih sayangNya pada kita semua.
Bisakah itu semua?
mmmph BISA, tetapi hingga saat ini, hal tersebut baru ada di UTOPIA.
Tuesday, 22 December 2009
Utopia
Sudah lama sebenarnya keinginan buat nyusun uneg-uneg di blog baru, tapi baru kesampaian sekarang. Yach, tak apalah seperti falsafah orang Indonesia; lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali.haha..Begitu juga dengan uraian tentang Utopia. Sudah lama juga ingin ungkapkan beragam hal yang utopis terkait beragam intik-intrik dalam kehidupan berorganisasi. Terkait dengan, piciknya pikiran orang-orang yang mengaku sebagai kaum intelektual, para akademisi yang dengan berpedoman pada dalih-dalih fiktif tentang kebebasan, persaudaraan, persatuan, persamaan derajat, transparansi, dan satu kata yang sungguh sangat agung untuk didengungkan dan diteriakkan mulai dari jalanan hingga podium forum: DEMOKRASI. Sungguh semua itu penuh dengan kemunafikkan yang dilegalkan lisan dengan kata keikhlasan.
Sungguh munafik, mereka yang katanya kaum terpelajar, kaum intelektual yang berani mengkotak-kotakkan manusia menjadi liberalis, sosialis, teokratis, otorites,anarkhis, diktator, dan paham-paham lain, dengan menonjolkan bahwa merekalah yang paling benar karena mengusung demokratis. Mereka berteriak-teriak lantang tentang pentingnya perubahan yang mengedepankan kebebasan berpendapat, persamaan derajat, pemerintahan yang jujur dan transparan pada saat mereka masih di jalan. Dengan menggalang masa, mempengaruhi orang-orang muda yang masih labil dengan doktrin-doktrin idealis, penuh mimpi dan sangat indah hingga akhirnya tercapailah tujuan untuk berkuasa, dengan dalih "perubahan" untuk menggulingkan penguasa sebelumnya. Mereka gunakan dalil demokrasi, tapi sebenarnya tujuannya hanya untuk aristokrasi dengan cara-cara yang sejujurnya adalah cara pengecut yang anarkhis, dengan memanfaatkan masa. Selepas kekuasaan tergenggam mulailah terlupa dengan esensi dari demokrasi yang dijanji-janjikan, bertahap tapi pasti mulailah muncul sifat merasa berkuasa, kemudian menjalar menjadi sifat arogansi atas berbagai peringatan hingga muncullah aksi interfensi atas bidang-bidang lain lewat cara-cara yang unik, informal maupun formal yang dibingkai dengan gaya retorika ; mengumumkan bahwa sebagai pemimpin saya siap mengemban kepercayaan ini, maka serahkanlah pada saya urusan ini. Hingga anak kelas 3 SMP bisa menilai bahwa itulah yang dinamakan kepemimpinan otoriter selepas mereka membaca buku sejarah perang dunia II.
Tak usahlah jauh-jauh berpikir tentang kenegaraan, dalam kehidupan organisasi pun hal ini terjadi, contoh gampangnya dalam organisasi kampus. saat diri merasa lebih pintar, lebih mengetahui tentang konsep ini-konsep itu, lebih senior kemudian muncullah arogansi, egoisme, hingga akhirnya sifat merasa paling benar muncul. Setiap ada yang memprotes untuk mengingatkan dianggap salah dan khianat, padahal cuma urusan kecil. Lalu muncullah klasifikasi atas berbagai nama terhadap orang atau kelompok yang dinilai bertentangan. Ada nama kanan, kiri, hitam, putih, abu-abu, liberalis, kapitalis, sosialis, fundamentalis, konservatif..dan masih banyak lagi. Yah wajarlah itu semua, dah merupakan sikap manusia yang mudah terpedaya dengan indahnya popularitas, gemerlapnya penghormatan, serta empuknya kursi kekuasaan, hingga lupa janji-janji, esensi-esensi pada perjuangan sebelumnya.
Maka dari itu sungguh, sangat kudamba sebuah negeri, oh terlalu luas kalau untuk sebuah negeri, yah cukuplah sebuah tempat dimana tak ada pengkotak-kotakkan atas paham-paham fiktif, sepi dari pujian, slogan-slogan kebebasan, persamaan, keterbukaan tapi penuh dengan ucapan salam, sapaan, senyuman. Sebuah area yang tak apalah terbagi atas beberapa kelompok dengan warna yang berbeda tiap kelompok yang dengan teguh dan konsisten mempertahankan warna karakternya, tanpa ada sifat merasa paling benar, paling indah, paling lurus yang ditampakkan. Sebuah tempat yang terisi dengan orang-orang yang dihatinya tertanam bahwa apa yang dianutnya ialah yang paling benar tanpa pernah mengungkapkannya kepada rekan-rekannya yang terlihat berbeda. Mereka meyakini dengan sangat yakin, tapi sungkan untuk membandingkan dengan paham yang dianut orang lain.
Ku mendamba, berada di tengah orang-orang yang saling menghormati keyakinan rekan-rekannya.Mampu menempatkan diri dimanakah seharusnya saya berbicara atas dasar paham dan pendapat saya. dan tentunya benar-benar mampu menghayati adanya dua telinga, dua mata dan satu lisan di kepala mereka.
Hmmh, saya masih mendambakannya, yang berarti sampai saat ini..selama hampir 20 th saya menghirup nafas kehidupan nyaris belum pernah ku temui. Ah saya lupa, sudah pernah kutemui ternyata. Saat ku berimajinasi dan mulai kutuliskan perlahan dalam coretan tangan dan ketukan-ketukan di atas papan. Sudah pernah kutemukan ternyata..dalam imajinasi kata "UTOPIA" dari Sir Thomas More.."a Place of Ideal Perfection".
we'd gather around, all in a room, fasten our belts, engage in dialogue
we'd all slow down, rest without guilt, not lie without fear, disagree sans judgement
we would stay, and respond, and expand, and include, and allow,
and forgive, and enjoy, and evolve, and discern, and inquire, and accept, and admit,
and divulge, and open, and reach out, and speak up
This is utopia this is my utopia
This is my ideal my end in sight
Utopia this is my utopia
This is my nirvana
My ultimate
we'd open our arms,
we'd all jump in,
we'd all coast down,
into safety nets
we would share, and listen, and support, and welcome,
be propelled by passion, not invest in outcomes,
we would breathe, and be charmed,
and amused by difference,
be gentle and make room for every emotion
This is utopia this is my utopia
This is my ideal my end in sight
Utopia this is my utopia
This is my nirvana
My ultimate
we'd provide forums,
we'd all speak out,
we'd all be heard,
we'd all feel seen,
we'd rise post-obstacle, more defined more grateful,
we would heal, be humbled,and be unstoppable,
we'd hold close, and let go, and know when to do which,
we'd release, and disarm, and stand up, and feel safe
this is utopia this is my utopia
this is my ideal my end in sight
utopia this is my utopia
this is my nirvana
my ultimate (Utopia-Alanis Morissette)
Sungguh munafik, mereka yang katanya kaum terpelajar, kaum intelektual yang berani mengkotak-kotakkan manusia menjadi liberalis, sosialis, teokratis, otorites,anarkhis, diktator, dan paham-paham lain, dengan menonjolkan bahwa merekalah yang paling benar karena mengusung demokratis. Mereka berteriak-teriak lantang tentang pentingnya perubahan yang mengedepankan kebebasan berpendapat, persamaan derajat, pemerintahan yang jujur dan transparan pada saat mereka masih di jalan. Dengan menggalang masa, mempengaruhi orang-orang muda yang masih labil dengan doktrin-doktrin idealis, penuh mimpi dan sangat indah hingga akhirnya tercapailah tujuan untuk berkuasa, dengan dalih "perubahan" untuk menggulingkan penguasa sebelumnya. Mereka gunakan dalil demokrasi, tapi sebenarnya tujuannya hanya untuk aristokrasi dengan cara-cara yang sejujurnya adalah cara pengecut yang anarkhis, dengan memanfaatkan masa. Selepas kekuasaan tergenggam mulailah terlupa dengan esensi dari demokrasi yang dijanji-janjikan, bertahap tapi pasti mulailah muncul sifat merasa berkuasa, kemudian menjalar menjadi sifat arogansi atas berbagai peringatan hingga muncullah aksi interfensi atas bidang-bidang lain lewat cara-cara yang unik, informal maupun formal yang dibingkai dengan gaya retorika ; mengumumkan bahwa sebagai pemimpin saya siap mengemban kepercayaan ini, maka serahkanlah pada saya urusan ini. Hingga anak kelas 3 SMP bisa menilai bahwa itulah yang dinamakan kepemimpinan otoriter selepas mereka membaca buku sejarah perang dunia II.
Tak usahlah jauh-jauh berpikir tentang kenegaraan, dalam kehidupan organisasi pun hal ini terjadi, contoh gampangnya dalam organisasi kampus. saat diri merasa lebih pintar, lebih mengetahui tentang konsep ini-konsep itu, lebih senior kemudian muncullah arogansi, egoisme, hingga akhirnya sifat merasa paling benar muncul. Setiap ada yang memprotes untuk mengingatkan dianggap salah dan khianat, padahal cuma urusan kecil. Lalu muncullah klasifikasi atas berbagai nama terhadap orang atau kelompok yang dinilai bertentangan. Ada nama kanan, kiri, hitam, putih, abu-abu, liberalis, kapitalis, sosialis, fundamentalis, konservatif..dan masih banyak lagi. Yah wajarlah itu semua, dah merupakan sikap manusia yang mudah terpedaya dengan indahnya popularitas, gemerlapnya penghormatan, serta empuknya kursi kekuasaan, hingga lupa janji-janji, esensi-esensi pada perjuangan sebelumnya.
Maka dari itu sungguh, sangat kudamba sebuah negeri, oh terlalu luas kalau untuk sebuah negeri, yah cukuplah sebuah tempat dimana tak ada pengkotak-kotakkan atas paham-paham fiktif, sepi dari pujian, slogan-slogan kebebasan, persamaan, keterbukaan tapi penuh dengan ucapan salam, sapaan, senyuman. Sebuah area yang tak apalah terbagi atas beberapa kelompok dengan warna yang berbeda tiap kelompok yang dengan teguh dan konsisten mempertahankan warna karakternya, tanpa ada sifat merasa paling benar, paling indah, paling lurus yang ditampakkan. Sebuah tempat yang terisi dengan orang-orang yang dihatinya tertanam bahwa apa yang dianutnya ialah yang paling benar tanpa pernah mengungkapkannya kepada rekan-rekannya yang terlihat berbeda. Mereka meyakini dengan sangat yakin, tapi sungkan untuk membandingkan dengan paham yang dianut orang lain.
Ku mendamba, berada di tengah orang-orang yang saling menghormati keyakinan rekan-rekannya.Mampu menempatkan diri dimanakah seharusnya saya berbicara atas dasar paham dan pendapat saya. dan tentunya benar-benar mampu menghayati adanya dua telinga, dua mata dan satu lisan di kepala mereka.
Hmmh, saya masih mendambakannya, yang berarti sampai saat ini..selama hampir 20 th saya menghirup nafas kehidupan nyaris belum pernah ku temui. Ah saya lupa, sudah pernah kutemui ternyata. Saat ku berimajinasi dan mulai kutuliskan perlahan dalam coretan tangan dan ketukan-ketukan di atas papan. Sudah pernah kutemukan ternyata..dalam imajinasi kata "UTOPIA" dari Sir Thomas More.."a Place of Ideal Perfection".
we'd gather around, all in a room, fasten our belts, engage in dialogue
we'd all slow down, rest without guilt, not lie without fear, disagree sans judgement
we would stay, and respond, and expand, and include, and allow,
and forgive, and enjoy, and evolve, and discern, and inquire, and accept, and admit,
and divulge, and open, and reach out, and speak up
This is utopia this is my utopia
This is my ideal my end in sight
Utopia this is my utopia
This is my nirvana
My ultimate
we'd open our arms,
we'd all jump in,
we'd all coast down,
into safety nets
we would share, and listen, and support, and welcome,
be propelled by passion, not invest in outcomes,
we would breathe, and be charmed,
and amused by difference,
be gentle and make room for every emotion
This is utopia this is my utopia
This is my ideal my end in sight
Utopia this is my utopia
This is my nirvana
My ultimate
we'd provide forums,
we'd all speak out,
we'd all be heard,
we'd all feel seen,
we'd rise post-obstacle, more defined more grateful,
we would heal, be humbled,and be unstoppable,
we'd hold close, and let go, and know when to do which,
we'd release, and disarm, and stand up, and feel safe
this is utopia this is my utopia
this is my ideal my end in sight
utopia this is my utopia
this is my nirvana
my ultimate (Utopia-Alanis Morissette)
Cuma menurut saya
Salam..
Hmmh..sebagai pembuka, tentunya harus dimulai dengan menyebut asma Dzat yang maha kuasa
Bismillah sebagaimana Umat Islam..
Dengan Nama Tuhan..
In the name of Gracious God..and the others
Dengan menyebut Asma Dzat Yang menguasai kehidupan, Yang memelihara kehidupan, dan Yang akan menjadi tempat pertanggungjawaban segala kehidupan...saya tuliskan berbagai coretan, ulasan yang didasari atas pendapat saya atas beragam hal yang saya alami, tentunya dengan pedoman "benar" menurut saya.
sekali lagi "benar" menurut saya, lebih tepatnya benar menurut saya saat saya menuliskan coretan-coretan di blog ini. Mengapa saya menitikberatkan pada "benar" menurut saya?sebab sekali lagi kebenaran yang mutlak semata-mata hanya DIA yang tahu. Jika kita menanyakan "benar" pada orang-orang..yang keluar adalah semata-mata kebenaran yang hanya didasari fanatisme, aroganisme, dan sifat-sifat benar menurut pemahamannya sendiri. Begitu juga dengan saya, maka dari itu..inilah coretan saya yang didasari atas pendapat yang benar menurut saya. Sok filosofis atau sok fundamentalis..terserah..
coz..ini cuma menurut saya..bullshit segala uraian yang penuh dengan hiperbolis, ironis, terkecuali untuk puisi hhe. Ku coba tuk tuliskan coretan ini, dengan tujuan semoga mampu menghindarkan dari segala kemunafikan yang terlintas, atas segala hal yang lebih mengharapkan pujian semata ketimbang kejujuran kata dari lisan pertama ataupun lisan kedua, mencoba tuk hindari ungkapan yang bertolakbelakang atas niatan hati.
Salam Kesejahteraan on straight path semoga senantiasa kita dapatkan.
Aamiin
Hmmh..sebagai pembuka, tentunya harus dimulai dengan menyebut asma Dzat yang maha kuasa
Bismillah sebagaimana Umat Islam..
Dengan Nama Tuhan..
In the name of Gracious God..and the others
Dengan menyebut Asma Dzat Yang menguasai kehidupan, Yang memelihara kehidupan, dan Yang akan menjadi tempat pertanggungjawaban segala kehidupan...saya tuliskan berbagai coretan, ulasan yang didasari atas pendapat saya atas beragam hal yang saya alami, tentunya dengan pedoman "benar" menurut saya.
sekali lagi "benar" menurut saya, lebih tepatnya benar menurut saya saat saya menuliskan coretan-coretan di blog ini. Mengapa saya menitikberatkan pada "benar" menurut saya?sebab sekali lagi kebenaran yang mutlak semata-mata hanya DIA yang tahu. Jika kita menanyakan "benar" pada orang-orang..yang keluar adalah semata-mata kebenaran yang hanya didasari fanatisme, aroganisme, dan sifat-sifat benar menurut pemahamannya sendiri. Begitu juga dengan saya, maka dari itu..inilah coretan saya yang didasari atas pendapat yang benar menurut saya. Sok filosofis atau sok fundamentalis..terserah..
coz..ini cuma menurut saya..bullshit segala uraian yang penuh dengan hiperbolis, ironis, terkecuali untuk puisi hhe. Ku coba tuk tuliskan coretan ini, dengan tujuan semoga mampu menghindarkan dari segala kemunafikan yang terlintas, atas segala hal yang lebih mengharapkan pujian semata ketimbang kejujuran kata dari lisan pertama ataupun lisan kedua, mencoba tuk hindari ungkapan yang bertolakbelakang atas niatan hati.
Salam Kesejahteraan on straight path semoga senantiasa kita dapatkan.
Aamiin
Subscribe to:
Posts (Atom)
